The New York Times disindir karena tidak objektif menyebut “ratusan” (orang) berpartisipasi dalam pawai pembela kehidupan

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Salah satu media terkemuka di AS, The New York Times mendapat sindiran karena memuat berita bahwa pawai pembela kehidupan “March for Life” pada 22 Januari lalu di Washington, DC, dihadiri oleh “ratusan” orang.

Jurnalis dari media Washington Post yang hadir dalam iven tersebut, menyebutkan “ribuan” orang turut berpartisipasi, sekalipun di tengah ancaman badai salju.

Namun, tulisan Post juga turut dikritik karena “ribuan” orang itu disebut “a small faithful crowd” (sebuah kumpulan kecil orang yang setia), yakni pada upaya pembelaan kehidupan anak-anak yang masih berada dalam kandungan ibu mereka.

Media pembela kehidupan LifeSite memuat sebuah video singkat menunjukkan para peserta pawai yang berjumlah “puluhan ribu.”

Jumlah yang hadir tampak jauh lebih kurang dari yang diharapkan sebelumnya (lebih dari 500 ribu orang) karena DC sedang menunggu ditimbun badai salju, sehingga banyak yang membatalkan untuk berpartisipasi.

NY Times menolak memperbaiki artikel yang dipublikasikan pada 22 Januari, dengan alasan bahwa laporan itu “benar.”

Jurnalis yang memuat berita itu menjawab pertanyaan media lain apakah ia menghadiri iven tersebut mengatakan “saya tidak bisa membantu Anda.”

Ini bukan pertama kali NY Times mendapat keluhan karena pemberitaannya.

Pada Agustus 2015 media top tersebut memuat koreksi atas pemberitaannya mengenai video investigatif yang mengekspos penyedia layanan kesehatan perempuan Planned Parenthood yang menjual bagian-bagian tubuh bayi yang didapat dari aborsi untuk mendapat keuntungan.

Sekalipun, waktu 16 hari untuk memuat koreksi itu disesali oleh para pendukung hak anak dalam kandungan.

Sebagian dari peserta pawai akhirnya terjebak salju ketika dalam perjalan pulang ke tempat asal mereka.

Mereka harus tidur dalam bis selama dua hari dan bertahan dengan makanan yang ada.

“Namun, penderitaan kecil ini tak sebanding dengan penderitaan luar biasa yang harus dialami oleh [bayi dalam kandungan] yang mengalami kesakitan karena aborsi,” ungkap Andrea Moury, seorang mahasiswi dari Universitas Fansiskan Steubenville, kepada LSN (25/1).

Mereka terjebak di Pensylvania dalam perjalanan pulang ke Ohio.

Berpawai untuk menunjukkan solidaritas terhadap anak-anak di bawah ancaman badai salju menunjukkan komitmen mereka untuk mengakhiri “pengorbanan anak” di AS.