Gara-gara salah bergereja

(Ilustrasi: church leaders)

Si Iblis datang ke sebuah kampung dan langsung mampir ke rumah seorang bapak yang beribadah di gereja yang khusuk sekali.

Dengan nada gertak si Iblis bertanya, “Kamu mau mati buat Tuhanmu?”

Bapak itu kaget setengah mati. “Saya tidak mengenal Dia yang kau maksud,” katanya.

Si Iblis tersenyum. Berikutnya ia masuk di rumah seorang ibu yang beribadah di gereja yang meriah dan nyaring sekali.

Dengan nada gertak si Iblis bertanya, “Kamu mau mati buat Tuhanmu?”

Ibu itu terkejut bukan main. “Saya tidak mengenal Dia yang kau maksud,” katanya.

Si Iblis kembali tersenyum. Ia kemudian mampir di rumah seorang bapak yang tidak bergereja samasekali.

Dengan cara yang sama si Iblis bertanya.

“Sungguh saya tidak mengenal Dia yang kau maksud,” kata bapak itu ketakutan, sambil menutup mata anak bungsunya yang saat itu ada di rumah.

Si Iblis kembali tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak.

Anak itu lalu menurunkan tangan ayahnya, lalu dengan menatap si Iblis ia berkata, “Kenapa kau tak bertanya padaku?”

Si Iblis terkejut, dan menjadi sangat penasaran.

Ia mencoba menakuti anak itu dengan wajah seram, tapi anak itu tetap tenang saja.

Si Iblis berpikir, baiklah apa ruginya menanyakan pertanyaan yang sama pada anak kecil ini.

“Apakah kamu mau mati buat Tuhanmu?”

“Saya mengasihi Tuhanku, saya bersedia mati bagi Dia,” jawab anak itu dengan berani.

Wajah si Iblis menjadi pucat.

Namun ayah si anak yang masih sangat ketakutan dengan gemetar berkata, “Jangan nak, jangan bilang begitu. Ia nanti bunuh kita.”

Dengan tenang sang anak menjawab, “Jangan takut, Ayah. Ia hanya menggertak. Ia sudah dikalahkan oleh Tuhan, tapi ia masih suka berpura-pura sebagai jagoan.”

Wajah si Iblis semakin pucat.

“Dari mana kamu tahu itu semua, anakku? Ayah tidak pernah mengajarkanmu semua itu,” ujar ayahnya terbata-bata.

“Karena Ayah tidak bergereja, jadi kadang saya ikut ke sekolah minggu di gereja bapak di seberang jalan atau dibawa ibu di sebelah rumah ke sekolah minggu di gerejanya,” jawab anak itu.

Si Iblis merasa malu karena tidak bisa membatah anak itu, lalu dengan kepala lesu ia pergi dari situ.

Ia tak pernah kembali lagi ke kampung itu.

 

%d bloggers like this: