Merenung bersama anak-anak: 10 Harapan dan Tragedi Betlehem 2015

Icon Kristus memberkati anak-anak. (Gambar via orthodoxgift.com)

EKKLESIASTIKA — Berefleksi dari peristiwa tragis yang menimpa anak-anak di Betlehem dan luputnya Kristus dari kejahatan Raja Herodes, berikut lima harapan yang dimiliki dan lima tragedi yang dihadapi anak-anak di tahun 2015:

HARAPAN

1. Diangkat anak oleh Tuhan terlebih dahulu. Pdt Jong-rak Lee, seorang pendeta di Korea (Selatan), merasa terpanggil untuk menyelamatkan bayi-bayi yang oleh karena berbagai hal tak bisa dibesarkan oleh orangtua mereka. Apa yang ia lakukan ternyata bisa menyelamatkan begitu banyak bayi. Ia membuat “Kotak Bayi,” yang disertai dengan lampu dan penghangat, supaya sang bayi dapat ditaruh dengan aman, daripada ditinggalkan di jalan dan meninggal. Pdt Lee mengungkapkan bahwa alasannya mengadopsi anak-anak yang ditinggalkan, yang cacat fisik, adalah “karena saya telah diangkat anak oleh Tuhan.”

2. Memberi suara pada yang tak memiliki suara. David Daleiden, pemimpin Center for Medical Progress (CMP), mempublikasikan video-video hasil jurnalistik investigatif yang membawa terang ke dalam praktek barbarik perdagangan tubuh bayi-bayi tak bersalah di Amerika Serikat (AS). Kesadaran publik telah menjadi momentum dalam kongres yang sementara memperjuangkan penghentian bantuan negara sebesar setengah miliar dolar per tahun untuk Planned Parenhood (PP), dan berdampak langsung terhadap menurunnya tingkat aborsi di negara itu. David menyamar sebagai agen yang tertarik membeli “spesimen,” yaitu bagian-bagian tubuh bayi korban aborsi yang dijual PP, penyedia layanan kesehatan perempuan di AS, dan merekam sejumlah percakapan dengan sejumlah petinggi-petinggi PP, salah satu menegosiasikan harga dan menyebut keinginannya untuk membeli mobil Lamborghini.

3. Diselamatkan anjing baik hati. November lalu sosial media ramai membicarakan foto seorang bayi, masih dengan tali pusar, terkulai lemah di dalam mulut seekor anjing. Menurut laporan berbagai media sang bayi ditemukan oleh anjing penyelamat itu, yang kemudian membawanya ke rumah penduduk. Salah satu melaporkan bahwa peristiwa itu terjadi di Kharbika, Oman, pada akhir Oktober lalu. Pihak berwajib dilaporkan melakukan upaya untuk mencari ibu sang bayi, yang telah mendapat perawatan medis dan dalam keadaan sehat. LifeNews juga melansir peristiwa serupa di Thailand pada 2013, ketika seekor anjing bernama Pui menyelamatkan seorang bayi perempuan yang ditinggalkan di pinggir jalan dalam sebuah tas plastik, masih dengan tali pusar. Bayi yang dalam kondisi kritis itu dilarikan ke rumah sakit, setelah Pui mendapatkan perhatian keluarga pemiliknya dengan menggonggong keras-keras. Pui kemudian diberi sertifkat dan medali penghargaan oleh Palang Merah.

4. Melawan pengorbanan anak dalam budaya sekular. Ketika Mahkamah Agung AS sedang menimbang keberadaan peraturan federal DOMA yang menyebut bahwa pernikahan dipahami secara hukum sebagai persekutuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, Robert Oscar Lopez dan B. N. Klein, yang dibesarkan oleh pelaku hubungan sejenis yang hidup bersama, turut memasukkan amicus curiae kepada MA. Mereka menyoroti tuntutan para pelaku hubungan sejenis terkait keinginan mereka untuk memiliki anak-anak dengan situasi yang harus dihadapi oleh anak-anak. “…Pengadilan harus mempertimbangkan bahwa memberikan ‘hak’ pernikahan kepada pasangan sejenis akan berarti, secara efektif, memberikan mereka anak-anak orang lain,” dan menjadikan anak-anak itu sebuah kelompok orang yang kehilangan hak untuk ayah dan ibu. Situasi yang dialami anak-anak demikian mereka namakan “pengorbanan anak dalam ideologi modern sekular — yaitu penggunaan anak-anak sebagai objek korban untuk memenuhi agenda orang-orang dewasa.” Pada Juni tahun lalu MA memberikan opini bahwa DOMA “tidak konstitusional.”

5. Meningkatkan efek jera terhadap pelaku kejahatan terhadap anak-anak. Pemerintah Indonesia berniat meningkatkan efek jera terhadap pelaku pelecehan terhadap anak-anak dengan mengebiri syaraf libido pelaku kejahatan seksual terhadap anak melalui suntik kimia. Hal ini didukung oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak seperti diungkapkan pada saat jumpa pers catatan akhir tahun Komnas Anak di Jakarta, Selasa (22/12). Komnas Anak juga mendorong supaya kekerasan pada anak digolongkan sebagai kejahatan luar biasa sehingga pelaku kejahatan dihukum maksimal.

 

TRAGEDI

1. Penculikan para siswi di Nigeria. Pada akhir tahun 2015 media melaporkan bahwa pemerintah Nigeria sedang berupaya untuk menegosiasikan pembebasan sekitar 200 siswi sekolah menengah di Chibok, Nigeria, yang diculik dari asrama mereka oleh kelompok ekstrimis “Boko Haram” pada April 2014 lalu. Nasib para siswi tersebut sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Lebih tragis lagi, kelompok teroris ISIS, disebut seorang ulama sebagai “Negara Iblis,” dilaporkan menculik, mengeksekusi, menyiksa, dan memperlakukan anak-anak dengan kejam, termasuk melibatkan mereka dalam perang.

2. Derita anak-anak di wilayah konflik. Badan PBB untuk urusan pengungsi UNHCR mengeluarkan laporan tahun lalu bahwa sejumlah anak pengungsi di Republik Afrika Tengah dilecehkan oleh sejumlah oknum tentara Perancis yang datang sebagai pasukan penjaga perdamaian pada 2013 dan 2014. NY Times (20/9/2015) melaporkan bahwa anak-anak laki-laki di Afganistan menjadi sasaran nafsu bejat oknum-oknum pemimpin militia dan kepolisian lokal, yang dipersenjatai oleh militer AS untuk menghadapi kelompok Taliban. Menurut laporan itu, para prajurit diinstruksikan oleh atasan mereka untuk tidak mencampuri hal tersebut. Karier dua orang anggota yang menggebuki seorang pemimpin militia, karena mengikat seorang anak di tempat tidur dan menjadikannya objek nafsu binatang, telah redup. Yang satu telah keluar dari militer, yang lain sementara dalam proses.

3. Derita anak-anak akibat perang. Foto Alan Kurdi, anak 3 tiga tahun asal Suriah, yang terkelungkup tak bernyawa dengan wajah terbenam dalam pasir di pantai Turki, tiba-tiba menyadarkan dunia tentang krisis pengungsi dari Timur Tengah yand diakibatkan perang yang tak berkesudahan di wilayah itu. Alan hanya salah satu dari anak-anak dan ribuan orang lainnya yang telah menemui ajalnya dalam upaya menyeberangi lautan untuk menghindari perang. Lebih dari 250.000 orang kehilangan nyawa sejak konflik berdarah dimulai Maret 2011 lalu di Suriah. Lebih dari 11.000 di antaranya adalah anak-anak. Sampai Agustus 2015, UNICEF menyebut korban anak-anak dalam konflik di Yemen telah mencapai 1000 orang, 400 meninggal dan 600 luka-luka. Ranjau yang ditanam masih terus menelan korban anak-anak di Ukraina. Newsweek melaporkan empat anak dan 21 orang dewasa menambah jumlah korban tewas Novemer lalu. Pada Maret sebelumnya UNICEF menyebut 42 anak yang terbunuh oleh ranjau, dan 109 luka-luka. Korban sipil menurut laporan badan HAM PBB per September tahun lalu mencapai hampir 8.000 orang.

4. Potret buram anak Indonesia dan Inggris. Oktober lalu Indonesia diguncangkan dengan berita penemuan tubuh seorang anak korban pembunuhan dan kekerasan seksual di Kalideres, Jakarta Barat. Polisi telah berhasil meringkus pelaku yang disebut mengidap kelainan psikoseksual. Sebelumnya, Bali geger dengan laporan menghilangnya Engeline (8), yang ternyata telah menjadi korban pembunuhan sadis. Wakil Ketua Komite III DPD RI, Fahmi Idris menilai dua kasus di 2015 itu “dapat dikatakan potret buram dan puncak gunung es kekerasan anak di Indonesia.” Di Eropa, Business Insider (20/5/2015) melaporkan kepolisian Inggris menyelidiki lebih dari 1.400 tersangka pelaku tindak pelecehan terhadap anak, 76 di antaranya adalah politikus, 43 dari industri musik, tujuh dari dunia olah raga, dan 135 dari industri perfilman, televisi dan radio.

5. Fasilitas kesehatan terminim di daerah terkaya. Sejumlah 41 anak dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit “misterius” di Distrik Mbua, Kapubaten Nduga, Papua pada September lalu. Laporan susulan menyatakan bahwa angka korban telah mencapai 70. “Ketika orang tua membawa anak-anak mereka ke klinik lokal, tidak ada yang membantu mereka. Pekerja kesehatan telah pindah ke kota,” ungkap Peneas Lokbere, koordinator Bersatu untuk Kebenaran dan Solidaritas Korban HAM di Papua dikutip UCANews dalam bahasa Inggris (18/12). Menurut laporan itu para orang tua korban tidak bisa membawa anak-anak mereka ke rumah sakit di Wamena, karena jarak dan medan yang berat. Biaya sewa kendaraan pribadi bisa sekurangnya dua juta rupiah, sangat mahal; dan tidak ada transportasi umum yang melayani mereka. Dalam kurun waktu dua tahun, wabah Ebola di Afrika Barat merenggut kehidupan lebih dari 11.300 orang, lebih dari 3500 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Menurut laporan UNICEF hampir 23.000 anak kehilangan sekurangnya satu orang tua atau pengasuh akibat penyakit tersebut. Badan kesehatan dunia PBB (WHO) terbukti lamban dalam menyikapi situasi tersebut, menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang luar biasa.

 

Terakhir diperbarui:
23 Januari 2016: Tambahan informasi jumlah anak-anak yang terkena dampak wabah Ebola di Afrika Barat.
7 Januari 2016: Tambahan informasi di kategori Tragedi nomor 1 tentang perlakuan kelompok teroris ISIS, disebut seorang ulama “Negara Iblis,” terhadap anak-anak.