Komuni Gereja Anglikan skors Gereja Episkopal AS atas keputusannya yang tidak mengikuti ajaran Alkitab

Uskup Agung Canterbury, Justin Welby dalam acara peneguhan di Canterbury Cathedral, 21 Maret 2013. (Foto Reuters/Luke McGregor via Christianpost)

INGGRIS (Yubelium.com) — Para pemimpin nasional gereja-gereja yang tergabung dalam Komuni Anglikan mengeluarkan keputusan memberi sanksi terhadap Gereja Episkopal Amerika Serikat atas langkah badan gereja tersebut mengubah ajaran Kristen tentang pernikahan, dengan memasukkan ‘perkawinan sejenis’ dalam prakteknya.

“Perkembangan baru-baru ini dalam Gereja Episkopal menyangkut perubahan dalam Kanon mereka tentang pernikahan merupakan penyelewengan mendasar terhadap iman dan ajaran yang diterima oleh mayoritas Wilayah-Wilayah tentang ajaran mengenai pernikahan,” demikian poin ke-2 pernyataan pertemuan itu, menambahkan bahwa langkah yang sama di wilayah lainnya akan memperuncing situasi ini.

Poin ke-4 keputusan itu mengatakan: “Ajaran tradisional gereja menyangkut pengajaran Kitab Suci menegakkan pernikahan sebagai persekutuan yang setia dan berlaku seumur hidup antara seorang perempuan dan seorang laki-laki…”

Keputusan itu berlaku selama tiga tahun, dan efektif membuat Gereja Episkopal antara lain tidak dapat mewakili Komuni Anglikan dalam hubungan ekumenis atau lintas agama dan tidak dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan menyangkut ajaran atau ketatalayanan gereja.

Langkah ini tampak merupakan kompromi untuk mempertahankan kesatuan antara gereja-gereja dalam Komuni yang terancam perpecahan.

Gereja-gereja Anglikan di Belahan Dunia Selatan bersikukuh tentang arah gereja harus sesuai dengan ajaran Alkitab, yang paling banyak mendapat sorotan adalah menyangkut ajaran gereja mengenai pernikahan Kristen.

Sementara di Utara, yang telah sangat dipengaruhi sekularisme, terdapat kecenderungan untuk menerima praktek yang secara historis dan apostolik ditentang gereja, seperti hubungan sejenis, dengan alasan menyambut orang-orang yang berperilaku demikian dalam gereja.

Dalam kasus homoseksual, gereja-gereja di kelompok pertama menekankan pelayanan pastoral dan penghargaan terhadap kemanusiaan orang-orang yang memiliki ketertarikan sesama jenis (KSJ), namun menolak melegitimasi praktek itu karena bertentangan dengan pewahyuan Kitab Suci tentang manusia .

Kelompok kedua cenderung mengenyampingkan ajaran Alkitab yang dipegang kekristenan selama dua milenia dan bersandar pada niat untuk bersikap baik terhadap orang-orang dengan KSJ, termasuk dengan merayakan hasrat seksual itu.

Perbedaan pandangan yang lebih mengarah pada otoritas Firman Tuhan dalam kehidupan orang percaya telah menyebabkan kerenggangan di antara gereja-gereja Anglikan, yaitu yang secara historis tekait dengan Gereja Inggris.

Anggota-anggota Gereja Anglikan yang tidak setuju dengan arah kelompok kedua di AS dan Kanada telah memisahkan diri dan membentuk Anglican Church in North America (ACNA).

Sekalipun belum diakui sebagai “Wilayah” dalam Komuni Anglikan, pemimpin ACNA, Uskup Agung Foley Beach, turut diundang oleh Uskup Agung Canterbury, Justin Welby untuk menghadiri pertemuan yang berlangsung 11-16 Januari itu.

NCR (1/14) menulis bahwa hasil pertemuan para pemimpin gereja dalam Komuni Anglikan kemungkinan telah ditopang oleh relik para pemimpin Kristen Inggris di masa lalu yang dikirimkan Vatikan untuk dapat dilihat di Canterbury Cathedral sementara pertemuan penting itu berlangsung.

Pada 2003 Gereja Ortodoks Rusia memutuskan relasi dengan Gereja Episkopal AS atas isu ini.

Setiap gereja nasional memiliki pengurusnya sendiri. Diperkirakan terdapat 75-80 juta anggota Anglikan di seluruh dunia. Anggota terbanyak saat ini terdapat di Dunia Selatan, secara signifikan di Benua Afrika.