Europol: Ribuan anak pengungsi hilang di Eropa, dikuatirkan telah menjadi korban eksploitasi

Tragedi kemanusiaan: Para pengungsi Suriah, terutama anak-anak dan perempuan, berupaya menghindari perang yang melanda negeri mereka. (Foto via huffpost.com)

EROPA (Yubelium.com) — Europol memperkirakan sekitar 10.000 pengungsi anak yang tidak disertai keluarga tidak diketahui keberadaan mereka sejak didaftarkan tiba di Eropa.

Pihak kepolisian Uni-Eropa itu menguatirkan bahwa banyak di antara mereka telah menjadi korban eksplotasi, demikian dilansir DW (31/1).

Pemimpin staf Europol Brian Donald mengatakan kepada media bahwa “sejumlah besar” pelaku kriminal tertangkap mengeksploitasi arus imigran dari negara-negara Timur Tengah yang sedang dilanda konflik.

Di Italia sekitar 5000 anak-anak tidak diketahui keberadaan mereka sejak tiba, sementara di Swedia 1000.

Dari satu juta orang pencari suaka yang masuk ke Eropa tahun lalu, sekitar 270.000 di antaranya merupakan anak-anak, terang Donald kepada The Guardian.

Jurubicara Organization Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE) mengatakan anak-anak yang tidak didampingi keluarga mereka adalah “yang paling rentan.”

Inggris Raya mengumumkan minggu lalu bahwa negara itu siap menerima pengungsi anak-anak dari Suriah dan wilayah konflik lainnya yang tidak disertai keluarga mereka.

Saat ini di Jenewa, Swiss, Perserikatan Bangsa Bangsa sedang memfasilitasi perundingan antara pihak pemerintah dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata di Suriah.

Sekurangnya 250.000 orang telah kehilangan nyawa sejak konflik terjadi lima tahun yang lalu. Lebih dari 11.000 di antaranya adalah anak-anak.

Di masa lalu, persetujuan secara lokal “dipaksakan dari luar.” Tapi sekarang “orang-orang ingin mengakhiri kekerasan, dan mengakhiri pertempuran. Untuk alasan ini, saya melihat ada sedikit harapan untuk optimisme,” demikian Vikar Aleppo Mgr Georges Abou Khazen seperti dikutip AsiaNews (14/1).

“…Kekuatan-kekuatan dari luar mendorong negara untuk pecah, memicu konflik dengan mengeksploitasi agama dan kebencian antar golongan untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka.”