DGD ungkapkan kecemasan dan keprihatinan atas senjata nuklir, Korea (Utara) sebut Irak dan Lybia sebagai alasan

hiroshima_nagazaki

Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima (kiri) dan Nagazaki (kanan) pada masa perang dunia kedua, membunuh ribuan penduduk dan menghancurkan total tempat tinggal mereka; termasuk meninggalkan dampak radiasi yang dirasakan oleh para penyintas. (Foto Charles Levy/CC) Senjata nuklir adalah ancaman terbesar peradaban manusia saat ini.

KOREA UTARA (Yubelium.com) — Dewan Gereja-Gereja se Dunia (DGD) menyampaikan “kecemasan dan keprihatinan” atas uji coba senjata nuklir yang dilakukan oleh Korea (Utara), mengajak untuk meredakan ketegangan dan mendorong dialog, termasuk pemusnahan senjata nuklir.

“Dalam konteks [S]emenanjung Korea, ancaman konflik nuklir membahayakan kehidupan dan masa depan tidak hanya orang-orang di [S]emenanjung, tapi wilayah sekitarnya dan dunia,” demikian dilansir Oikoumene.org (8/1).

DGD mengajak semua pihak yang terlibat dalam ketegangan di Semenanjung Korea, secara khusus Korea (Selatan), Korea (Utara), Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok, untuk turut dalam upaya menciptakan kehidupan bersama yang damai di wilayah tersebut.

DGD mengecam uji coba nuklir Korea (Utara) sebagai “tidak mengarah pada de-eskalasi dan dialog,” mengingatkan bahwa DGD telah menyerukan Semenanjung Korea yang bebas nuklir, termasuk di Asia Timur Laut, dan untuk larangan global kemanusiaan terhadap senjata nuklir.

Pihak Korea (Utara) mengatakan bahwa pengembangan senjata nuklir itu “sebagai upaya pertahanan diri untuk melindungi secara menyeluruh kedaulatan negara dan hak-hak vital bangsa dari ancaman nuklir yang terus meningkat setiap hari dari kekuatan-kekuatan tak bersahabat dan dapat diandalkan untuk menjaga perdamaian di Semenanjung Korea dan keamanan wilayah,” demikian pernyataan yang dikutip media KCNA dilansir RT.com (9/1).

Pernyataan itu menyebutkan bahwa jatuhnya rezim Saddam Hussein di Irak dan Gaddafi di Lybia setelah dilucuti kemampuan untuk mengembangkan nuklir dan secara sukarela menghentikan program nuklir karena tekanan dari pihak yang menghendaki pergantian rezim merupakan “pelajaran pahit” yang harus ditarik.

Klaim Korea (Utara) atas keberhasilan mengembangkan “bom termonuklir mini” ditanggapi oleh Korea (Selatan) dengan memulai kembali propaganda loudspeaker di perbatasan.

Secara teknis status perang antara dua Korea masih berlangsung sampai saat ini, jeda dengan perjanjian genjatan senjata, sementara insiden-insiden dan upaya perdamaian terus terjadi di antara satu bangsa yang terpisah oleh peninggalan masa Perang Dunia II.

DGD mengingatkan pesan dalam pertemuan DGD di Busan, 2013 lalu, yakni “doa supaya visi dan impian semua rakyat Korea, aspirasi mereka yang sama untuk pemulihan, rekonsiliasi, perdamaian dan reunifikasi dapat terwujud.”