Paus Fransiskus di Afrika Tengah: Letakkan senjata kematian, angkat senjata kebenaran, dengan cinta-kasih dan pengampunan

AFRIKA TENGAH (Yubelium.com) — Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma, dalam kunjungannya ke Republik Afrika Tengah (RAT) yang sementara bergolak, menyerukan kepada pihak-pihak bertikai untuk berdamai.

“Kepada semua yang tak adil menggunakan senjata dunia ini, saya menyampaikan permohonan ini: Letakkan alat kematian ini!” ungkap Paus Fransiskus dalam sebuah Misa di Bangui, ibukota negara. “Sebaliknya, persenjatai dirimu dengan kebenaran, dengan kasih dan pengampunan, penjaga perdamaian yang sejati,” demikian BCNN1 (29/11) melansir USA Today.

TERKAIT: Uskup Agung Bangui kuatirkan komunitas Muslim di Republik Afrika Tengah

Ia menekankan panggilan Kristen untuk mengasihi musuh, bahwa sikap itu akan menjaga rakyat dan bangsa RAT
“dari godaan untuk mendendam dan lingkaran tak berujung pembalasan.”

Hampir satu juta rakyat RAT terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat kekerasan antara dua kelompok yang memakai agama sebagai identifikasi. Kelompok Seleka, yang melengserkan pemerintahan Presiden Francois Bozize pada 2013 dan diasosiasikan dengan Muslim, dengan kelompok anti-Baleka, yang muncul sebagai tandingan dan dilabel sebagai Kristen.

Presiden RAT saat ini, Chaterine Samba-Panza, mengucapkan terimakasih kepada Paus untuk apa yang disebutnya “pelajaran mengenai keteguhan hati,” karena mengatasi kekuatiran atas situasi keamanan di negara itu. Presiden wanita itu menyebutnya “kemenangan iman atas ketakutan.”

Paus Fransiskus turut mengunjungi para pengungsi di kompleks bandar udara Bangui.

“Harapan saya supaya kalian dapat hidup dalam damai, tanpa memandang kelompok etnis (suku)mu, budayamu, agamamu dan latar belakang sosialmu,” ungkapnya kepada mereka yang sudah sekitar dua tahun mencoba bertahan di lokasi itu.

Sandrine Sanze mengatakan bahwa ia dan keluarganya telah datang kembali ke lokasi pengungsian setelah bentrokan kembali terjadi baru-baru ini.

“Adalah doa kami supaya dengan kunjungan Paus perdamaian akan kembali, kami bisa pulang ke rumah kami dan memulai lembaran baru,” ungkapnya kepada Associated Press.

Selain sentimen suku/etnis, sentimen agama adalah yang paling rentan dimanipulasi untuk menimbulkan konflik, yang dapat menggiring pada tragedi kemanusiaan.

Dalam kunjungannya dengan para pemimpin umat Islam di masjid Koudoukou, Paus mengatakan bahwa “Kristen dan Muslim adalah saudara dan saudari,” demikian Nation.com.pk melansir AFP.

“Bersama, kita harus mengatakan tidak kepada kebencian, pembalasan dendam, dan kekerasan, terlebih lagi kekerasan yang dilakukan atas nama sebuah agama atau Allah sendiri,” ungkapnya.

Idi Bohari, seorang lanjut usia mengatakan, “Kami kira seluruh dunia telah melupakan kami, tapi dia tidak. Ia mengasihi kami juga, Muslim. Saya sangat senang.”