Mahasiswa kampus Injili bela Muslim di Amerika Serikat

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Sejumlah mahasiswa di Wheaton College, kampus yang identik dengan semangat Injili berlokasi di dekat kota Chicago, Illinois, menulis sebuah surat terbuka yang dimuat di media kampus, menyuarakan penolakan mereka terhadap retorik “ketakutan” yang beredar di negara itu terhadap umat Islam.

“Sebuah Surat Terbuka untuk para Pemimpin Komunitas Injili” demikian tulisan itu dimulai.

Surat itu mengkritik ucapan pemimpin Liberty University, Jerry Falwell, Jr yang membuat pernyataan mengajak mahasiswa untuk melindungi kampus dari kemungkinan ancaman teror, yang disertai dengan ungkapan kata-kata yang meng-generalisir umat Islam sebagai pelaku teror.

“Sementara ungkapan seperti itu menunjukkan terus berkembangnya ketakutan dan permusuhan yang diarahkan terhadap Muslim, kami sebagai Kristen Injili berpegang bahwa Kristus memanggil kita untuk tidak bereaksi dengan penekanan dan kekerasan keagamaan – melainkan, kita memiliki tanggung jawab untuk menghidupi kasih yang tanpa ketakutan untuk meraih persatuan,” demikian di awal surat yang dimuat Washington Post (10/12).

Pemimpin Liberty University telah memberikan klarifikasi terhadap ucapan itu dengan merujuk tragedi yang terjadi di San Bernardino, California. Ia menolak menarik pernyataannya, termasuk menekankan kembali penolakannya terhadap upaya pemerintah untuk mengetatkan kepemilikan senjata.

“…komentar demikian keluar dari rel kesaksian Injil dan panggilan untuk mengasihi sesama kita dan mencari persatuan,” ungkap surat itu.

“Sebagai pemimpin Kristen yang membawa nama Yesus Kristus di dunia ini, kita memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk menjaga kata-kata kita dan melindungi pilar-pilar persatuan dan kasih terhadap sesama yang ditunjukkan Injil kepada kita untuk diraih.

“Karena itu, kami berkerinduan untuk bersatu dalam solidaritas dengan saudara-saudari Muslim kami, mendukung prinsip-prinsip keadilan, kesejahteraan dan belas kasih yang dijunjung bersama.”

Pada 2 Desember setempat, Farook didampingi isterinya, Malik menyerang acara yang digelar rekan-rekan sekerjanya di departemen kesehatan masyarakat San Bernardino County. 14 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa tragis itu.

Pasangan suami-isteri itu tewas dalam tembak-menembak dengan pihak kepolisian.

Muslim di San Bernardino menyesalkan kejadian itu, mengatakan bahwa peristiwa itu membuat mereka berdukacita bersama para korban, sekaligus kuatir terhadap dampaknya terhadap komunitas Muslim.

Penyelidik Federal telah mengembangkan penyelidikan dan menemui orang-orang yang memiliki kontak telpon dengan Farook sebelum peristiwa tragis itu terjadi.

Seorang di antaranya Roshan Zamir Abbassi, asisten imam di masjdi Dal-Al-Uloom Al-Islamiyah, San Bernardino, tempat Farook biasanya beribadah.

Ia mengaku tidak mengenal dekat Farook. Dalam pesannya di akun media sosial Abbassi memuat pertemuannya dengan pihak keamanan. Sebelum itu ia memuat sebuah video yang mengutuk ISIS, sekaligus berargumen bahwa bangsa-bangsa Barat sama bersalah dengan upaya mencapai tujuan-tujuan politik dan agama lewat kekerasan, intimidasi dan ketakutan, demikian LA Times (12/12).

Surat terbuka mahasiswa Wheaton juga menyebutkan bahwa mereka “percaya bahwa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan [1 Yohanes 4:18], kami mengharapkan sebuah dunia yang di dalamnya komunitas-komunitas beragama menolak diskriminasi, menghilangkan permusuhan karena agama, dan berdiri untuk keadilan.”

Mengutip ucapan Kristus dalam Matius 5:43 mereka menulis, “Bahkan ketika sesama kita melakukan kekerasan, kita dipanggil untuk mengasihi sama seperti Kristus, sampai pada kematian.”

Nathan Heath, mahasiswa tingkat akhir, jurusan relasi internasional dan musik, dan Ciera Horton, mahasiswa tingkat tiga jurusan sastra Inggris dan pilihan sosiologi, menulis surat itu, bersama 20 rekan mereka.