Tersangka pembakar gereja-gereja di AS ditahan, pendeta minta jemaat-jemaat galang persatuan, jauhi sikap bermusuhan atau kehilangan iman

“Kami memaafkan siapapun yang melakukan ini: ‘Mengampuni seperti Tuhan mengampuni’.” Anak-anak di sekolah yang berdekatan membuat poster ini, mengatakan bahwa mereka memaafkan siapapun yang melakukan aksi pembakaran gereja-gereja. (Foto via Generosity.com)

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Pihak berwenang telah menahan David Lopez Jackson, 35, sebagai tertuduh pelaku pembakaran dua banguan gereja di St Louis, negara bagian Missouri. Ia juga merupakan tersangka terhadap kebakaran di lima gereja lainnya.

[TERKAIT: Gereja Baptis, Lutheran dan Katolik termasuk 7 gereja yang dibakar di St Louis, AS, dalam waktu 10 hari: Mendorong persatuan gereja-gereja]

Pelaku menumpahkan bahan bakar di pintu masing-masing gereja dan menyalakannya.

Menurut keterangan polisi, kamera keamanan menunjukkan bahwa mobil Jackson berada di lokasi kejadian di Gereja New Life Missionary Baptist Church (gereja baptis misionaris hidup baru), demikian Washington Post (30/10). Sebuah tempat bensin dan termos berbau seperti bensin di temukan di dalammnya.

Jackson, yang berlatar belakang Afro-Amerika, memiliki catatan kriminal yang panjang. Belum ada keterangan mengenai motif di balik tindakan itu.

“Ada begitu banyak perpecahan dalam tubuh orang percaya. Saya pikir Tuhan mengijinkan ini terjadi untuk membawa gereja-gereja lebih dekat bersama supaya kita bisa berjuang dalam perang rohani,” ungkap Pdt Triggs, pemimpin Gereja New Life, kepada WP.

New Life merupakan gereja yang mengalami kerusakan paling parah karena api menyebar ke bagian depan bangunan.

Setelah kejadian itu gereja ini berganti nama menjadi United Believers in Christ Ministries (pelayanan orang percaya bersatu dalam Kristus).

“Pembakar itu, dia bukan musuh saya. Saya telah memaafkan dia segera ketika saya menarik puing-puing gereja yang terbakar. Saya yakin ia sedang sakit rohani, dan itulah caranya kita menghadapi hal ini – dengan mengenyampingkan perbedaan-perbedaan kita dan berdoa bersama,” kata Pdt Triggs.

Pembakaran tempat-tempat ibadah itu membawa kesedihan di antara jemaat. Mereka menyebutnya sebagai “merusak” dan “mengecewakan,” termasuk “merisaukan hati.”

Tapi Pdt Triggs mengatakan bahwa itu adalah kesempatan untuk membawa gereja-gereja bersatu.

“Saya tidak ingin orang-orang menjadi marah, bersikap bermusuhan, atau kehilangan iman karena hal ini,” ungkapnya. “Mari kita berdoa bersama. Mari kita bangkit bersama. Mari kita berjuang bersama.”

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam waktu 10 hari (10/8 – 10/21) sebanyak tujuh gereja yang berbeda mengalami pembakaran disengaja di kota St Louis, di antaranya adalah Gereja Baptis, Lutheran dan Katolik.