Resolusi Evangelical Theological Society tentang pernikahan; Prof Katolik: Gunakan ilmu pengetahuan modern untuk terapi KSJ

salibAMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — The Evangelical Theological Society (ETS), himpunan para ahli, dosen, guru, mahasiswa berlatar belakang Protestan Injili, mengadopsi empat poin resolusi tentang seksualitas manusia sejalan dengan ajaran Alkitab mengenai pernikahan dan hakikat identitas perempuan dan laki-laki.

Keempat poin itu, ditetapkan pada 19 November 2015 dalam pertemuan tahunan ETS yang diselenggarakan di Atlanta, Georgia, adalah:

  1. Kami meneguhkan bahwa semua orang diciptakan menurut gambar rupa Allah dan karena itu memiliki martabat dan nilai yang inheren.
  2. Kami meneguhkan bahwa pernikahan adalah akad persekutuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan berlaku seumur hidup.
  3. Kami meneguhkan bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa keintiman seksual dikhususkan dalam pernikahan sebagaimana yang disebutkan di atas. Hal ini menolak semua bentuk keintiman seksual di luar itu.
  4. Kami meneguhkan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, dikaruniai dengan ciri-ciri khusus dalam kelelakian dan kewanitaan, dan bahwa masing-masing merupakan pemberian yang tak berubah dan merupakan identitas pribadi.

Resolusi itu menurut Rob Schwarzwalder dari organisasi advokasi keluarga Family Research Council menunjukkan klaim sejumlah pendukung “pernikahan sejenis yang diciptakan pengadilan dan penggabungan jender,” bahwa ada pergeseran pandangan dalam kelompok Injili tentang seksualitas, adalah tidak benar.

Sementara itu, dari kelompok Katolik, Mark S Latkovic, profesor Teologi Moral di Sacred Heart Major Seminary, Detroit, Michigan, mengungkapkan bahwa “[h]omoseksualitas adalah sebuah persoalan yang telah dibentuk oleh nilai-nilai Barat, dan saat ini berada di depan-dan-tengah-tengah hampir seluruh negara dan budaya di seluruh dunia, terutama yang dipengaruhi oleh humanisme sekular.”

Bahkan masyarakat yang masih berpegang pada nilai-nilai tradisional telah terkena dampaknya, karena “media sosial telah menciutkan dunia kita,” tulisnya.

Ia mengusulkan untuk menggunakan ilmu pengetahuan modern untuk memberikan perawatan terhadap hasrat ketertarikan sesama jenis (KSJ). Psikologi klinis, disertai dengan filsafat antropologi dapat membantu orang-orang yang merasa bergumul dengan KSJ.

Katolik sama sekali bukan anti-ilmu pengetahuan, menunjuk pada Georges Lemaître, pengusul teori Big Bang, dan Gregor Mendel, bapa ilmu genetika modern, bahwa keduanya merupakan rohaniawan Katolik.

Psikoterapis Perancis yang juga adalah seorang imam, Tony Anatrella, yang membidangi psikologi klinis dan sosial, menulis di 2006 bahwa pandangan yang menolak adanya masalah psikologi dalam KSJ tidak dianut oleh “mayoritas praktisi [psikolog],” yang ditekan untuk diam, karena bertentangan dengan trend “politically correct orthodoxy.”

Hal itu dinilainya merupakan hal yang destruktif terhadap mereka yang memiliki inklinasi KSJ.

Jika KSJ dalam diri seseorang “terkait dengan inklinasi seksual yang muncul semasa perkembangan afektif orang tersebut tapi yang berasal dari konflik psikologi yang belum terselesaikan,” Prof Latkovic mengutip Anatrella, maka tulisnya, “kita melakukan ketidak adilan terhadap orang dengan KSJ yang tidak mendapat perawatan terbaik yang pantas mereka terima.”

Para aktivis homoseksualisme sangat menentang upaya terapi atau perawatan untuk menangani KSJ, bahkan yang tidak diinginkan oleh yang bersangkutan sekalipun, mengutip bahwa perawatan demikian adalah destruktif terhadap orang dengan KSJ, bahwa hasrat itu harus diterima sebagai hal yang “normal.”

Dalam laporan lain, secara objektif pakar kesehatan memperingatkan akan “dampak negatif terhadap kesehatan dari perilaku beresiko tinggi” dari praktek hubungan sejenis.

“Kebudayaan kita [di Barat] secara luas kebingungan terkait diri seorang manusia, seks, pernikahan, dan keluarga…” tulis Prof Latkovic.

 

Diperbarui 29 November 2015.