Muslim dan Kristen berjuang mempertahankan kota kuno Kristen di Suriah dari serangan ISIS: Membela tanah kelahiran kami

patriark gereja ortodoks suriah

Patriark Gereja Ortodoks Suriah Mor Ignatius Aphrem Karim II bertemu dengan para pejuang di kota kuno Kristen Sadad, Suriah. (Foto Mor Ignatius Aphrem Karim II)

SURIAH (Yubelium.com) — Sekitar 500 warga Suriah berlatar belakang Kristen sejauh ini telah berhasil mencegah kelompok ISIS (disebut seorang ulama sebagai “Negara Iblis”) masuk ke Sadad, sebuah kota kuno Kristen. Para pejuang Muslim dari berbagai wilayah di Suriah telah berdatangan untuk membantu mempertahankan “kota simbolik” itu.

“IS telah mengarah ke Sadad tetapi mereka tidak berhasil masuk ke Sadad. Orang-orang muda di Sadad, dengan bantuan sejumlah kelompok bersenjata, mampu membalas serangan dan mendorong mundur IS ke posisi mereka semula. Mereka juga dibantu oleh sejumlah kelompok yang datang dari berbagai wilayah di Suriah,” terang Mor Ignatius Aphrem Karim II, Patriark Gereja Ortodoks Suriah kepada Newsweek (10/11).

Patriark Ignatius mengunjungi Sadad dari Damaskus untuk mendukung semangat para pejuang di kota yang penduduknya memakai bahasa Aram, bahasa umum abad permulaan Masehi yang dipercaya digunakan juga oleh Yesus Kristus (Isa al Masih).

“Orang-orang dari berbagai penjuru Suriah telah datang untuk berjuang bagi Sadad. Kota ini adalah tempat simbolik bagi kami dan kami tidak akan membiarkannya jatuh kembali,” ungkap seorang pejuang Kristen yang namanya dirahasiakan untuk alasan keamanan.

Pada Oktober 2013, kelompok Nusra, disebut terkait al-Qaeda, merebut kota itu selama lebih dari seminggu, dan membunuh 46 warga, sebelum tentara pemerintah merebutnya kembali. Christian Post menulis kota ini disebut “Zedad” dalam Kitab Bilangan dan Kitab Yehezkiel.

“Mengharukan namun juga sangat membangkitkan semangat melihat orang-orang muda kami bertekad untuk membela tanah mereka dan tinggal di negeri kelahiran mereka,” ungkap Patriark Ignatius. “Melihat mereka siap berjuang dan berkorban bagi negeri mereka, bagi saya itulah yang paling bermakna, yang membuat saya sangat bangga terhadap mereka.”

Patriark Ignatius menyebutkan bahwa selain tentara berlatar belakang Islam yang menjaga kota itu, sejumlah pejuang berlatar belakang Islam juga telah datang untuk turut mempertahankan kota itu.

“Adalah lebih baik kami tinggal di tanah kelahiran kami,” ungkap Patriark Ignatius. “Jika kami mati di sini, kami membela tanah kelahiran kami dan kami tidak mencoba melarikan diri.”

Ia mengatakan bahwa populasi kota itu pada pertengahan tahun adalah sekitar 15.000 jiwa, tetapi saat ini tinggal kurang lebih 2000 menyusul hadirnya ancaman ISIS di wilayah itu.