Badan amal Bunda Teresa berhenti menyediakan pelayanan adopsi setelah India mengubah hukum memungkinkan single dapat mengangkat anak

(Foto Reuters via Christian Today)

INDIA (Yubelium.com) — Misionaris Kasih (Missionary of Charity), sebuah badan amal yang dibentuk oleh Bunda Teresa untuk membantu anak-anak terlantar di India, mengeluarkan pernyataan bahwa lembaga itu tidak lagi melayani adopsi bagi anak-anak dalam pengasuhan mereka, setelah pemerintah India mengubah peraturan sehingga memungkinkan orangtua single dan bercerai untuk mengangkat anak.

“Kami sudah menutup pelayanan orangtua angkat kami, karena kami percaya anak-anak kami bisa tidak menerima kasih yang sejati,” ungkap Sister Amala, pemimpin Misionaris Kasih di Delhi Utara.

“Kami tidak ingin memberi anak-anak kepada orang single atau orangtua yang telah bercerai. Ini bukan peraturan agama, ini peraturan manusia. Anak-anak butuh kedua orangtua, perempuan dan laki-laki. Itu alamiah, bukan?”

Anak-anak bukan komoditas

Konferensi Wali Gereja India mendukung sikap Misionaris Kasih, mengatakan bahwa kebijakan baru itu “bertentangan dengan prinsip-prinsip yang ditegakkan oleh Bunda Teresa, yang telah berdiri dan diterima secara luas, dan prinsip-prinsip etika dan martabat manusia.”

Komite untuk hukum dan kepentingan masyarakat Konferensi juga menunjukkan bahwa membuka adopsi bagi orangtua tunggal adalah “prosedur yang kurang dapat diterima, karena menyangkut resiko yang lebih besar bagi anak-anak angkat dan berlawanan dengan maksud utama dari pengangkatan anak,” demikian dikutip Times of India (16/10).

“Demikian juga dengan petunjuk untuk menghadirkan enam orang anak kepada calon orangtua asuh untuk memilih salah satu dari mereka. Ini akan bermuara pada anggapan bahwa anak-anak hanyalah komoditas untuk pilihan yang lebih disukai dan penyangkalan atas martabat manusia dalam anak-anak.”

Misionari Kasih menyediakan tempat tinggal, makanan, pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak terlantar, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Pelayanan adopsi di 13 panti asuhan yang mereka kelola dihentikan pada 1 Agustus.

Agenda sekular

“Mereka mengutip persoalan ideologis mengenai peraturan adopsi kami, menyangkut memberikan seorang anak untuk diadopsi oleh ibu-ibu yang tak menikah (single, unwed mothers),” ungkap Maneka Gandhi, Menteri Perempuan dan Perkembangan Anak, demikian dilansir TIME (11/10) mengutip Washington Post. “Mereka tidak ingin mengikuti agenda sekular yang seragam.”

Pemerintah mengutip menurunnya angka anak-anak yang diadopsi dan lambatnya proses dengan sistem yang lama untuk perubahan itu.

Sebelumnya, panti-panti asuhan memiliki keluasan untuk mencocokkan anak asuh dengan orangtua angkat. Dengan sistem baru, calon orangtua asuh mendaftarkan diri kepada pemerintah, yang kemudian mencocokan anak dengan calon orangtua asuh.

Hal itu berarti, anak-anak dari panti-panti asuhan dapat diangkat anak oleh orang dari mana saja di India.

“Peraturan [pemerintah] baru itu bertentangan dengan hati nurani kami. Itu pastinya bukan untuk masyarakat religius seperti kami…Bagaimana jika orang single yang kepadanya kami berikan anak kami ternyata adalah gay atau lesbi?

“Keamanan atau landasan moral seperti apa yang akan diperoleh anak-anak ini? Peraturan kami hanya mengijinkan pasangan yang menikah yang dapat mengangkat anak,” ungkap Sister Amala seperti dikutip media lokal The Indian Express (9/10).

Misionaris Kasih akan tetap sepenuh hati melayani ibu-ibu di luar nikah, anak-anak yang mengalami malnutrisi dan berkebutuhan khusus yang tinggal di lembaga-lembaga yang mereka kelola, gratis, tanpa memandang kasta atau agama.