Gereja Baptis, Lutheran dan Katolik termasuk 7 gereja yang dibakar di St Louis, AS, dalam waktu 10 hari: Mendorong persatuan gereja-gereja

“Kami memaafkan siapapun yang melakukan ini: ‘Mengampuni seperti Tuhan mengampuni’.” Anak-anak di sekolah yang berdekatan membuat poster ini, mengatakan bahwa mereka memaafkan siapapun yang melakukan aksi pembakaran gereja-gereja. (Foto via Generosity.com)

AMERIKA SERIKAT (Yubelium.com) — Dalam waktu 10 hari (10/8 – 10/21) sebanyak tujuh gereja yang berbeda mengalami pembakaran disengaja di kota St Louis, negara bagian Missouri. Pihak kepolisian masih belum menetapkan tersangka, dan sementara mengembangkan kasus ini.

Michelle Higgins, warga setempat, mengatakan bahwa gereja-gereja yang dibakar antara merupakan tempat beribadah warga Afro-Amerika di pusat kota atau berada di wilayah utara kota St Louis, demikian Mission Network Online (26/10).

Waktu dan nama gereja-gereja tersebut adalah:

  • Bethel Non-Denominational Church (8/10)
  • New Northside Missionary Baptist Church (10/10).
  • St. Augustine Catholic Church (14/10)
  • New Testament Church of Christ (15/10)
  • New Life Missionary Baptist Church (17/10)
  • Ebenezer Lutheran Church (17/10)
  • Shrine of St. Joseph (21/10)

“[Gereja-gereja] itu berada di pusat kota atau di bagian utara kota kami, dan mereka melakukan program untuk menjangkau terutama orang-orang yang kurang mampu atau berpendapatan rendah,” ungkap Michelle, menambahkan bahwa gereja-gereja tersebut juga melakukan pelayanan untuk menjangkau kelompok etnik/ras.

St Louis terletak sekitar 4,8 kilometer dari Ferguson, yang sempat dilanda konflik yang dipicu oleh perlakuan seorang anggota kepolisian terhadap warga Afro-Amerika. Hal ini memunculkan dugaan tindak kriminal pembakaran gereja berlatar belakang kebencian rasial/etnis.

Namun Michelle, yang aktif dalam pelayanan bersama Intervarsity Christian Fellowship dan gerakan #BlackLivesMatter, mengatakan bahwa lebih dari persoalan ras/etnis, pembakaran tersebut adalah menyangkut “kebebasan beribadah.”

“Pada saat ini keprihatinan kami adalah bahwa [pembakaran itu] pada dasarnya adalah serangan terhadap pekerjaan membangun kerajaan [Allah] yang sedang dilakukan oleh gereja-gereja kami di St Louis,” ungkapnya.

Ia telah mengorganisir pengumpulan dana online untuk membantu gereja-gereja yang diserang, dan sampai berita ini diturunkan telah mencapai 80% dari total dana yang diupayakan, yaitu USD 18.000 (sekitar Rp 234 juta dengan kurs saat ini).

Api dikobarkan di pintu masuk setiap gereja, dengan kerusakan pada masing-masing bangunan bervariasi. Untuk sementara jemaat-jemaat ada yang beribadah di luar gedung, di taman, atau ke gereja rekan, ungkap Michelle.

Ia melanjutkan bahwa serangan itu di sisi lain membawa manfaat, “dan dengan cara mengagumkan ternyata memperdalam iman kami dan mendorong kami untuk bertobat dan memberi tanggapan,” katanya.

Dengan mengambil langkah sebagai komunitas iman, pembakaran itu dapat membantu mempersatukan tubuh gereja.

“St Louis adalah tempat di mana perpecahan di mana-mana. Orang beriman harus menjadi yang pertama yang mengakui perpecahan itu dan pertama membuat perubahan,” ungkap Michelle.

Dalam doa bersama di New Life Missionary Baptist menyusul pembakaran itu Pdt Triggs mengatakan, “Bukan siapa-siapa yang gila, tetapi si jahat.”