Dewan lintas agama dukung bantuan militer Federasi Rusia di Suriah: Menghentikan ancaman teror dan membawa perdamaian di wilayah TT

doakansuriah

Informasi susulan:

“Intervensi Rusia telah menghasilkan daya guna yang lebih besar dalam perjuangan melawan militan [ISIS] karena jet tempur mereka mengenai sasaran mereka, mereka tidak pura-pura mengenai sasaran,” ungkap Vikar Apostolik Alepo, Msgr Georges Abou Khazen, dikutip AsiaNews (20/10).

 

DAMASKUS (Yubelium.com) — Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 30 September 2015 komunitas-komunitas agama di Rusia menyatakan mendukung keputusan Federasi Rusia untuk memberi bantuan militer dalam upaya membela rakyat sipil Suriah dari ancaman terorisme dan mendukung tentara pemerintah Republik Arab Suriah melawan ISIS.

Pernyataan itu menekankan perlunya mengikuti standar hukum internasional dalam membela warga yang kehidupan, keselamatan, dan kebebasannya terancam oleh kegiatan “internasional teroris.”

Harapan mereka adalah “dengan bantuan Rusia ancaman teror dapat dielakkan dan mempercepat hadirnya hidup damai di negara ini [Suriah] dan di seluruh Timur Tengah atas dasar dialog dan keserasian antara kelompok etnik, agama, dan ideologi yang berbeda-beda,” demikian dikutip media Pravmir, 1 Oktober.

Patriark Kirill, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, menggaris bawahi “situasi dahysat” yang harus dialami oleh orang-orang yang menjadi target tindak ekstrimisme dan terorisme, terutama kekerasan terhadap orang Kristen di wilayah itu.

“…[P]enculikan dan pembunuhan kejam terhadap para uskup dan rohaniawan, dan penghancuran barbarik terhadap gereja-gereja kuno,” ungkap Patriark Kirill sepeti dikutip Pravmir, 1 Oktober.

Umat Muslim di tempat-tempat suci agama Abrahamik itu juga turut menderita, katanya.

“Proses politik” yang belum membuahkan hasil yang diharapkan membuat perlunya “perlindungan militer” bagi orang-orang yang tak bersalah, ungkapnya.

Keputusan Rusia untuk memberikan bantuan militer menyusul upaya untuk menghentikan perluasan ISIS, yang telah menyebabkan penderitaan yang hebat di wilayah Timur Tengah, terlihat lambat, jika bukan tak berhasil.

Namun kompleksitas persoalan turut diperparah perbedaan pendapat antara Rusia dan AS perihal peran pemerintah di bawah Presiden Asaad untuk menyelesaikan konflik. AS dan sekutunya menghendaki pergantian rezim, dan telah terang-terangan mendukung kelompok-kelompok pemberontak. Tindakan yang dinilai Rusia sebagai dukungan terhadap terorisme.

Pada 2 Oktober 2015, Uskup Agung Suriah Jacques Behnan Hindo mengatakan kepada Fides: “Rakyat Suriah yang akan memutuskan apakah [Presiden] Assad harus turun, dan bukan Daesh [rujukan untuk ISIS] atau Barat. Dan adalah satu hal yang pasti bahwa jika [Presiden] Assad turun saat ini, Suriah akan menjadi sama dengan Lybia.”

Ia memperingatkan: “Kami telah menerima kabar buruk dari kota Deir al Zor, yang telah dikepung oleh Daesh cukup lama. Tidak ada lagi makanan dalam kota, dan populasi benar-benar sedang kelaparan. Kita perlu melakukan sesuatu, sebelum terlambat.”

 

Terakhir diperbarui 3 November 2015.