Siapa yang menutup rumah ibadah? Antara orang anti-Tuhan, preman yang dibayar, orang yang terlalu sederhana pemikirannya, atau (yang berbahaya)…

anti-IslamEKKLESIASTIKA — Baru saja gempar insiden Tolikara yang sempat dimanipulasi untuk menggoyahkan kerekatan dalam masyarakat Indonesia, muncul berita sekelompok masyarakat berjubah agama tertentu menuntut penutupan Gereja Santa Clara di Bekasi.

Bagi yang bangga dengan sikap saling menghargai dan menghormati antara masyarakat berbeda keyakinan tentu hal ini menimbulkan sejumlah tanda tanya.

Siapa gerangan orang-orang di balik pakaian tradisional Timur Tengah itu? Maksudnya bukan nama atau alamat mereka, sekalipun tentu mereka punya.

Apakah mereka orang anti-Tuhan, karena itu menargetkan tempat-tempat beribadah, sekaligus menimbulkan rasa antipati antar umat beragama?

Apakah mereka preman yang dibayar oleh orang yang berkuasa, sehingga polisi dan tentara pun ogah mendisiplinkan mereka?

Apakah mereka orang-orang yang terlalu sederhana pemikirannya, yang di-‘hipnotis’ oleh orang anti-Tuhan atau preman yang dibayar?

Ataukah mereka adalah boneka yang digerakkan tangan asing untuk maksud melumpuhkan dan menguasai sumberdaya alam dan sumber daya manusia yang melimpah di Indonesia?

Pertanyaan yang keempat ini dapat dikatakan yang paling berbahaya dari semua kemungkinan yang sempat terpikirkan saat ini.

Namun yang paling disayangkan tentunya adalah umat beragama, yang karena kepolosan dan kesederhanaannya, sangat mudah dikondisikan untuk memusuhi atau bahkan melakukan tindakan anarkis terhadap kelompok lain; yakni yang dipersepsikan berbeda, bersaing dan karena itu berbahaya.

Takkan disebut sayang jika bukan karena kepolosan atau kesederhanaan mereka, melainkan karena diberi uang. Karena kalau demikian, mereka pun masuk ke kategori yang kedua.

Semua kemungkinan ini memang perlu ditelusuri untuk bisa memberi respon yang sesuai terhadap fenomena unjuk rasa untuk menutup rumah ibadah.

Apa sebenarnya yang melatar belakangi pikiran dan tindakan orang-orang ini, kebanyakan wajahnya yang muncul di media terlihat polos dan ungkapan bahasanya sangat religius?

Apakah mereka dapat membaca Kitab Suci mereka, dan lebih penting lagi memaknainya secara manusiawi?

Hal ini penting karena Kitab Suci umat Islam mengajarkan:

“Sekiranya Allah tidak mendorong mundur sebagian orang lewat sebagian lainnya, [maka] biara-biara Nasrani, gereja-gereja, sinagog-sinagog, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah, sudah dirubuhkan dan dihancurkan. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang membantu-Nya [orang-orang yang beribadah kepada-Nya] – sesungguhnya Allah Mahakuasa dan Mahabesar. (Qur’an 22:40, terjemahan bebas)

Jadi kalau ada umat Islam, atau yang memakai atribut Timur Tengah (sekalipun orang Kristen, penganut agama etnis, dan yang tak beragama di Timur Tengah juga berpakaian demikian), mengatas namakan Islam untuk menutup rumah-rumah ibadah, teristimewa lagi rumah ibadah kaum Nasrani, maka perlu dipertanyakan penghayatannya terhadap iman yang ia junjung.

Hal ini sangat penting karena berefek pada harapan eskatologis (akhir zaman) seorang Muslim, yang juga terdapat dalam Kristen dan Yahudi.

Dalam Islam itu berarti orang yang merasa membela jalan Allah, tetapi justru pada kenyataannya sedang memeranginya, maka upahnya yang sesungguhnya adalah neraka jahanam.

Hal ini menjadikan isu penutupan rumah ibadah ini menjadi sangat penting, karena menyangkut kesejahteraan orang-orang tertentu, bukan hanya kesejahteraannya di dunia ini (yang adalah penting). Melainkan karena lebih penting dari segala yang lain adalah kesejahteraannya di dunia akhirat.

Jika mereka turut serta dalam tindakan sensasional dan provokatif itu semata-mata karena kepolosan pemikirannya, hal yang tentunya sangat disayangkan, maka menjadi kewajiban, pertama bagi pemimpin-pemimpin agamanya untuk mengingatkan kesejahteraan jiwanya di akhirat nanti.

Para pemimpin agama akan mempertanggung jawabkan tidak hanya jiwa mereka sendiri, melainkan juga jiwa-jiwa yang dipercayakan oleh Yang Mahakuasa kepada mereka. Jika mereka menunjukkan jalan yang benar namun orang itu bersikeras di jalannya, maka darah orang itu tertanggung pada dirinya sendiri.

Yang kedua, bagi anggota keluarganya untuk mendoakan dan menegur dengan kesungguhan, mengusahakan supaya ia membuka mata dan melihat kebinasaan di jalan itu.

Ini jika dipahami dengan benar bahwa tindakan menutup rumah ibadah adalah tidak hanya bertentangan dengan penghargaan terhadap hak asasi manusia untuk berelasi dengan Penciptanya, melainkan juga adalah sebuah kewajiban agama untuk melindunginya.

Jika umat beragama (apapun) memahami demikian, maka akan muncul rasa bangga yang lebih lagi dengan sikap saling menghargai dan menghormati antara masyarakat berbeda keyakinan.

Perbedaan itu harus menjadi jembatan, bukan jurang, supaya orang merasa perlu saling mengunjungi dan belajar antara satu dengan yang lain.

Orang dapat belajar amal dari seorang Muslim, kasih dari seorang Kristen, pengudusan dari seorang Yahudi, Dharma dari seorang Hindu, pengosongan diri dari seorang Budha. Dan jangan merasa tersinggung jika seorang Kristen meyakini Kristus adalah satu-satunya jalan kepada Allah. Ia bukan lagi seorang Kristen jika ia melepas keyakinannya, dan kalaupun seorang mau belajar kasih darinya, kasih itu bukan lagi kasih dari seorang Kristen. Jika ingin belajar tradisi, belajarlah pada seorang penganut Konghucu. Namun jika ada orang mengaku ia adalah semua ini, jangan mau belajar apa-apa darinya, karena ia telah mengaku diri seorang penyesat. 

Ia adalah sama dengan orang-orang anti-Tuhan yang menyembah diri sendiri; sama dengan para preman yang tidak memiliki jiwa ksatria, dan para perampok dan penjajah yang karena ketamakannya tak pernah puas dan kelimpahan mereka. Dalam semua ini mereka sedang mengikuti jalan sesat mereka, dan sayang ujungnya adalah kebinasaan.

Semoga mereka menemukan jalan kembali. Siapapun mereka.