Profesor Neurobiologi: Mengapa kita tak perlu bayi korban aborsi untuk penelitian medis

baby

Dalam sebuah artikel di National Review, seorang profesor neurobiologi dan anatomi di Sekolah Kedokteran University of Utah, Maureen L Condic (PhD UC Berkley, 1989), mengatakan bahwa klaim industri praktek aborsi bahwa diperlukan organ tubuh bayi untuk penelitian medis yang dapat menyelamatkan nyawa manusia adalah salah.

Menanggapi sebuah artikel yang ditulis oleh ahli mikrobiologi Nathalia Holt di New York Times, Dr Condic mengkritik dua argumen dalam artikel itu yang mengatakan 1) ada “kebutuhan” terhadap bagian tubuh manusia (lebih khusus sel batang fetus) dan 2) bagian tubuh manusia itu dapat menyelamatkan kehidupan. “[K]edua pernyataan itu, dan asumsi yang mendasarinya, adalah salah,” tulis Dr Condic.

[TERKAIT: “Kejahatan terhadap kemanusiaan”: Heboh jual beli bagian tubuh bayi korban aborsi di AS]

“Para peneliti pada tahun 60-an dan 70-an menggunakan sel fetus untuk menghasilkan kultur sel karena, dengan keterbatasan pengetahuan saat itu, sel fetus lebih mudah diperbanyak sebelum transformasi. Namun di dunia modern saat ini, sel fetus tidak diharuskan untuk menghasilkan kultur sel. Dengan menggunakan teknologi saat ini, sel orang dewasa tersedia untuk ditransform dengan cara yang sama dan memiliki properti yang sama dengan kultur sel yang diambil dari sel fetus,” tulisnya menanggapi klaim bahwa sel fetus diperlukan untuk membuat vaksin.

Ia juga mengatakan bahwa alasan satu-satunya bahwa para peneliti masih menggunakan kultur sel yang telah mengalami transformasi dari fetus adalah untuk alasan “historis.”

“Kultur (sel) ini telah digunakan selama lebih dari 40 tahun, kita telah mengetahui banyak tentang properti mereka dan telah membuat banyak ‘pengembangan’ dalam mereka, yang membuat mereka menjadi alat laboratorium yang bernilai,” tulisnya. Hal ini ia katakan tidak membuat “jaring fetus” menyelamatkan, melainkan vaksin yang dihasilkan.

[TERKAIT: Patriark Kirill desak parlemen untuk melindungi anak-anak dalam kandungan]

Ia membedakan antara “kebutuhan” dan “pasar” untuk menjual belikan organ bayi. “Orang-orang ingin dan akan mengeluarkan uang banyak untuk rokok, obat-obatan halusijenik, penganan yang bergaram dan berlemak, dan novel roman cengeng — semua hal yang tidak mereka ‘butuh’ dan yang kemungkinan bisa merugikan mereka.

“Menyediakan hal-hal itu tak bisa dijadikan mulia dengan berpura-pura bahwa itu memenuhi suatu ‘kebutuhan’ mendasar seperti makanan dan air bersih. Itu semata-mata memenuhi permintaan. Itu adalah kapitalisme, jelas dan sederhana.”