Perang rohani: Ratusan warga Kristen dan Muslim Suriah diculik ISIS, yang disebut ulama “Negara Iblis”

d83aa-pengungsisuriah_afp

Derita pengungsi: Seorang ibu tampak lelah tertidur dengan memangku anaknya di sebuah jalan di Suriah. (Foto AFP)

Sekitar 230 warga Al Quaryatayn, dekat Homs, diperkirakan telah ditahan oleh kelompok ekstrimis ISIS yang merebut kota itu pada 6 Agustus. Sekurangnya 60 di antaranya beragama Kristen, demikian informasi dari Observatorium HAM Suriah yang berbasis di Inggris, seperti dilansir EWTNNews.

Romo Jihad Youseff, anggota komunitas Katolik Mar Musa di Suriah, kepada organisasi kemanusiaan Aid to the Church in Need (ACN) mengatakan sekitar 30-an warga Kristen berhasil melarikan diri pada akhir minggu. “Beberapa merupakan gembala dan mereka mengenal wilayah itu. Mereka melarikan diri ke Homs,” ungkapnya.

Ia menyerukan permohonan doa bagi para warga Suriah yang ditawan ISIS.

Sejumlah pemimpin Muslim telah menyuarakan penolakan mereka terhadap ISIS, atau IS (Islamic State “Negara Islam” di Irak dan Suriah), dan menyebutnya “bertentangan dengan prinsip-prinsip utama Islam.”

Wakil Ketua Dewan Mufti Rusia, Rushan Abbyasov, mengatakan bahwa ISIS bukan “Islamic State” melainkan “Iblis State” (negara Iblis), demikian dilansir RT, 17 Juni.

Hal senada sebelumnya telah diungkapkan seorang eksorsis kondang di kalangan Katolik, Rm Gabriele Amorth.

“ISIS adalah Setan,” tulisnya di sebuah media sosial April lalu seperti dikutip CNA. Ia menggaris bawahi aspek spiritual dari apa yang sedang terjadi di dunia saat ini, dan bahwa “binatang itu” sedang bekerja keras di zaman akhir ini.

“Sebagai seorang Kristen saya memerangi binatang itu secara rohani,” tulisnya.

Pada Maret 2011, demonstrasi melawan pemerintah tiba-tiba berubah menjadi perang saudara, yang menjadi tanah subur munculnya ISIS. Sejak itu lebih dari 230.000 orang telah terbunuh. Sekitar empat juta orang menjadi pengungsi di negara-negara tetangga, dan delapan juta lainnya sebagai pengungsi di dalam negeri.