Laudato Si: Kepedulian untuk rumah bersama kita, seruan untuk menyelamatkan ekologi

Ensiklik (surat edaran) Paus Fransiskus, “Laudato Si’ (Terpujilah Engkau): Tentang Kepedulian terhadap Rumah Bersama Kita,” mengajak umat untuk mempedulikan lingkungan hidup, sebagai “rumah bersama” seluruh manusia dan ciptaan lainnya.

“Harapannya dengan ensiklik ini, Gereja Indonesia menjadi semakin berani untuk bersuara, semakin berani untuk bertindak bersama-sama dengan masyarakat yang lain karena Paus sudah mengajak hal itu, untuk segera beraksi, keluar dari diri sendiri lalu bergandengan tangan dengan orang lain untuk memperbaiki rumah bersama yang sudah mulai rusak parah ini,” demikian kata Pastor Paulus Christian Siswantoko Pr, sekretaris eksekutif Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau KWI, pada pertemuan yang digelar di Kantor KWI di Jakarta, Senin, 27 Juli, seperti dikutip Mirifica.net.

Nama ensiklik ini diambil dari doa St. Fransiskus Assisi “terpujilah Engkau, Tuhanku” dalam Madah Ciptaan, yang mengingatkan bahwa bumi, rumah bersama kita, adalah juga seperti “ibu yang dengan tangan terbuka merangkul kita.”

Bumi, saat ini, sedang diperlakukan semena-mena dan sedang meratap, dan rintihannya menyatu dengan semua yang diterlantarkan oleh dunia, demikian dijelaskan dalam panduan yang dimuat NCR.

Dalam sebuah artikel yang berbeda NCR menunjukkan bahwa Laudato Si mengkritik penggunaan bahan bakar fosil yang tak terkendali, yang dinilai menyebabkan perubahan iklim yang bedampak sangat negatif terhadap yang miskin dan lemah.

Dalam Laudato Si Paus Fransiskus menegaskan bahwa masih ada harapan untuk “memulai kembali.”

Ia mengutip Paus Yohanes Paulus II mengenai tugas umat percaya terhadap ciptaan, bahwa orang Kristen memiliki tanggung jawab dalam ciptaan Allah, dan “tugas mereka untuk ciptaan dan untuk Allah, adalah bagian mendasar dari iman mereka.”

 

Teks terjemahan Ensiklik Laudato Si (Sesawi.net — pdf.)

Terakhir diperbarui 7 Agustus 2015.