Gereja GPIB dan GPIRP hentikan kerjasama dengan PCUSA, janji akan mendoakannya

pcusaDua gereja Amerika Latin dari tradisi Reformasi, yaitu Gereja Presbyterian Independen Brazil (GPIB) dan Gereja Presbyterian Injili dan Reformed Peru (GPIRP), telah mengeluarkan pernyataan memutuskan hubungan kerja sama dengan Gereja Presbyterian Amerika Serikat, dikenal dengan PCUSA, atas hasil voting yang membuat praktek hubungan sejenis diterima secara lebih luas dalam gereja itu.

[TERKAIT: Hasil voting PCUSA atas definisi pernikahan: Penolakan terhadap Alkitab]

Pada Juli 2015 GPIB menyatakan mengakhiri kerja sama yang telah berlangsung sejak tahun 70-an ketika GPIB menerima beberapa pekerja misi PCUSA.

“…[M]eskipun dengan kontribusi yang demikian besar bagi perluasan kerajaan Allah di dunia, terlebih khusus di Brazil, gereja kami memahami bahwa keputusan-keputusan yang dibuat PCUSA belakangan ini adalah bertentangan dengan prinsip otoritas Kitab Suci atas kehidupan dan iman Gereja, sekaligus dokumen-dokumen pengakuan iman dalam warisan Reformasi kita.

“Di atas semuanya tetaplah ungkapan syukur kami yang dalam dan penghargaan untuk gereja ini dan doa kami bagi kalian,” demikian sebagian pernyataan GPIB, seperti dikutip Presbyterian News Service.

Pembicaraan antara GPIB dan PCUSA termasuk dengan tenaga misi PCUSA untuk GPIB saat ini, Pdt Timothy dan Martha Carriker (suami dan isteri), sedang dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya.

Sama seperti GPIB, GPIRP juga telah menimbang-nimbang status hubungan kerja sama dengan PCUSA sejak 2011 ketika gereja itu memutuskan untuk menahbiskan pelayan yang secara terang-terangan mempraktekkan hubungan sejenis.

Hasil voting PCUSA untuk membolehkan ‘pernikahan’ dua orang sejenis pada Maret 2015 lalu telah meyakinkan kedua gereja tersebut untuk mengakhiri hubungan kerja sama dengan PCUSA.

[TERKAIT: Hak kebebasan beragama di Amerika Serikat terancam oleh sekularisme]

GPIRP mengekspresikan rasa syukur mereka atas hubungan kerja sama yang telah dibangun sejak 2007, dan “[b]erterima kasih kepada Tuhan untuk telah memberikan kesempatan kepada kami bekerja dengan PCUSA dan melayani Gereja Presbyterian di Peru.”

Namun, GPIRP memutuskan “dengan suara bulat” tidak memperbarui hubungan kerja sama dengan PCUSA, efektif Juni 2015.

“GPIRP berjanji mendoakan PCUSA, supaya Tuhan Yang Mahakuasa membimbing mereka menurut Kitab Suci, satu-satunya pedoman iman dan praktek hidup,” tegas mereka.

Saat ini belum ada tenaga misi PCUSA di GPIRP.

Dua gereja lainnya dari Amerika Latin dan Timur Tengah yang tidak disebutkan, sekalipun menyesali keputusan itu, menyatakan tetap akan menjaga hubungan kerja sama dengan PCUSA, salah satu atas pertimbangan “hubungan historis,” dan dengan terang-terangan meratapi bahwa keputusan PCUSA itu “membawa dampak kepada kami.”

“[Keputusan itu] membawa kepedihan dalam Gereja kami, dan membawa rasa malu dalam konteks yang lebih luas dalam budaya yang menilai keputusan itu patut disesali,” ungkap mereka.

Yang lain meminta supaya hubungan kerja sama tetap berjalan dalam sikap “saling menghargai dan kolaborasi” dengan mengingat “budaya dan prinsip teologi masing-masing gereja,” dan meminta PCUSA untuk “tidak mengirim pekerja misi yang menikah dengan sesama jenis.”

[TERKAIT: 6 mitos hak gay dan pendekatan pastoral kristiani]

Pada Agustus 2011 Gereja Presbyterian Meksiko menyatakan tidak akan membuka kembali hubungan kerja sama yang telah berlangsung selama 139 tahun dengan PCUSA sampai keputusan untuk menerima pentahbisan pelayan yang secara terbuka mempraktekkan hubungan sejenis ditarik kembali, demikian Layman.

Menurut informasi yang dimuat situs Presbyterian Mission Agency gereja dan organisasi Kristen di Indonesia yang memiliki hubungan kerja sama dengan PCUSA antara lain adalah: Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Gereja Kristen Indonesia (GKI – Jawa Tengah), Gereja Kristen Injili di Irian Jaya, dan Universitas Kristen Duta Wacana, yang menjadi tempat mengajar pekerja misi PCUSA untuk Indonesia Bpk Bernie and Ibu Farsijana Adeney-Risakotta.

PCUSA adalah salah satu dari gereja-gereja aliran Protestan di dunia Barat yang telah mengubah tata gerejanya melalui mekanisme voting untuk menerima praktek hubungan sejenis.

Belum lama ini adalah dua denominasi gereja Protestan di Skotlandia dan di Perancis. Gereja Ortodoks Rusia (GOR) telah mengambil sikap menghentikan relasi dengan kedua gereja tersebut, karena “melangar prinsip dari tradisi moralitas Kristen.” Pater Dimitry Smirnov, pemimpin Komisi untuk Keluarga, Ibu dan Anak GOR, melihat bahwa gereja-gereja yang menerima praktek hubungan sejenis pada hakikatnya telah menolak iman Kristen dan sedang bersiap untuk menerima [kedatangan] Anti-Kristus.