“Doa terjawab:” Umat Kristen Iran syukuri kesepakatan nuklir

(Foto via Newsweek)

Umat Kristen Iran turut merayakan kesepakatan nuklir yang dicapai oleh negaranya dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB: Amerika Serikat, China, Federasi Rusia, Inggris Raya dan Perancis; ditambah Jerman (P5+1).

“Saya dengan yakin dapat mengatakan bahwa semua orang Kristen, bersama seluruh rakyat Iran, bersukacita karena doa mereka terjawab,” ungkap Pater Hormoz Aslani Babroudi, Direktur Nasional Pontifical Missionary Society (serikat misi kepausan) di Iran kepada Fides, 15 Juli 2015.

“Sekarang ini akan lebih mudah bagi dunia untuk memiliki pandangan positif terhadap Iran, kerinduan untuk sebuah harmoni akan terwujud dan akan lebih mudah untuk menunjukkan semua orang bahwa Iran tidak seperti [yang digambarkan dalam] laporan jaringan media tertentu.

“Kami bisa bekerja dan menggunakan ilmu pengetahuan untuk kebaikan Negara kami. Kami bisa mengembangkan teknologi untuk hidup lebih baik.”

Pater Hormoz mengatakan bahwa Iran “telah selalu merupakan sebuah negeri yang kaya dengan budaya, dan dihuni oleh masyarakat yang beradab dan gigih. Pada waktu lalu kami juga meraih kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi dan teknologi informasi, dan juga dalam bidang kedokteran, sekalipun dengan keterbatasan sanksi yang diberikan yang membuat bahan baku tertentu tidak bisa diperoleh.”

Ia mengungkapkan kepada Fides bahwa umat Kristen bersukacita.

“Kami semua senang dengan hasil ini. Kami tidak melihat diri kami sebagai orang asing, tetapi rakyat Iran dan kami bangga dengan itu. Kami berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus dan mengucap terima kasih kepada-Nya untuk kabar baik ini. Kami berdoa supaya perlindungan-Nya menyertai kami. Kami juga meminta supaya Ia memberkati dan memberi kekuatan dan semangat kepada semua orang dan seluruh Iran yang kami cintai, termasuk mereka yang menjaga kami dan yang memimpin Negara ini.”

Kesepakatan nuklir ini mendapat dukungan dari Vatikan.

“Tahta Suci melihat persetujuan menyangkut program nuklir Iran dari sisi positif,” ungkap jurubicara Vatikan, Ps  Federico Lombardi SJ, dalam sebuah pernyataan pada 14 Juli 2015, tak lama setelah pengumuman kesepakatan itu, demikian CNA.

Vatikan mendukung program nuklir untuk energi dengan mengacu pada Perjanjian Non Proliferasi Nuklir (NPT), sebagai akomodasi sementara mendorong pemusnahan nuklir yang mengancam eksistensi manusia.

Msgr Stuart Swetland, menulis di NCR, turut menunjukkan dukungan Konferensi Waligereja Amerika Serikat terhadap kesepakatan itu. Ia menggaris bawahi bahwa sekalipun bukan ideal dalam harapan kelompok tertentu, namun kesepakatan itu telah menghindarkan terjadinya perang dan mengangkat kehidupan rakyat miskin dan rentan yang paling menderita di bawah embargo ekonomi yang dijatuhkan terhadap Iran.

Presiden sekaligus pengajar kepemimpinan dan etika Kristen di Donnelly College, Kansas, ini membandingkan penderitaan akibat embargo ekonomi yang dialami oleh Irak pada tahun 1990-an “yang memberi dampak yang menghancurkan serta membawa ribuan kematian prematur.”

Ia menilai bahwa tanggapan Vatikan dan umat Kristen Iran terhadap keputusan ini dapat menjadi alasan mengapa umat Katolik secara khusus perlu melihat kesepakatan itu secara positif.

Sebagai bagian dari kesepakatan ini Iran harus mengeluarkan sebagian besar timbunan uraniumnya, dan dimonitor oleh Badan Energi Atom Internasional. Dengan demikian Iran menjauh dari produksi senjata nuklir, namun tetap berhak mengembangkan energi nuklir untuk perdamaian.