Tips Paus Fransiskus tentang bagaimana mempertahankan martabat dan kemerdekaan ketika berhadapan dengan media informasi saat ini

Paus Fransiskus_YDalam kunjungannya ke Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, Paus Fransiskus berbagi tips dengan ratusan pemuda tentang bagaimana mempertahankan martabat dan kemerdekaan mereka ketika berhadapan dengan media informasi saat ini.

“Di zaman saya – Zaman Batu – ketika sebuah buku bermanfaat, kita membacanya; ketika buku itu membawa pengaruh buruk, kita membuangnya,” ungkap Paus kepada pemuda-pemudi sukarelawan dari latarbelakang agama dan etnis berbeda, 6 Juni, demikian CNS.

Paus Fransiskus mengakhiri kunjungan seharinya di negara Balkan itu, dan mengambil kesempatan beraudiens dengan para sukarelawan. Ia menaruh teks pidatonya, dan mengatakan kalau ia lebih senang menerima pertanyaan.

Seorang pemuda mengatakan bahwa ia membaca Paus telah lama berhenti menonton televisi, dan ingin tahu apa alasannya melakukan itu.

Menurut Paus ia memutuskan untuk berhenti pada pertengahan tahun 1990-an karena “pada satu malam saya menyadari bahwa [menonton televisi] tidak memberi manfaat pada saya. Itu membuat saya terasing,” ungkapnya.

Karena itu, pada waktu ia masih menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires, Argentina, ia meminjam film dari stasiun televisi keuskupan untuk ditonton. Tontonan yang tidak membuatnya merasa terasing.

“Jelas bahwa saya berasal dari Zaman Batu, saya ini kuno!” ungkap Paus.

Ia mengungkapkan bahwa zaman telah berubah, dan “gambar” telah menjadi begitu penting.

Tapi sekalipun dalam “zaman gambar,” orang-orang perlu mengikuti standar yang sama, seperti “zaman buku tadi: memilih hal-hal yang baik buat diriku,” ungkapnya.

Mereka yang memproduksi atau menyalurkan program, seperti stasiun televisi, mempunyai tanggung jawab untuk memilih program-program yang memperkuat nilai-nilai, yang membantu orang-orang bertumbuh dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan;

“yang membangun masyarakat, yang mendorong kita maju, bukan yang menarik kita kebawah.”

Para pemirsa memiliki tanggung jawab untuk memilih mana yang baik, dan merubah channel yang memuat hal yang “kotor” dan hal-hal yang “membuat saya menjadi vulgar.”

Di samping kualitas isi yang perlu mendapat perhatian, adalah penting juga untuk membatasi waktu yang dipakai untuk duduk di depan layar, ungkapnya.

Jika “hidupmu telah melekat pada komputer dan menjadi budak komputer, kau telah kehilangan kemerdekaanmu. Dan kalau kau menonton program-program cabul di komputer, kau kehilangan martabatmu,” katanya.

 

Dalam perjalanan dengan pesawat kepausan kembali ke Roma, Paus Fransiskus menanggapi pertanyaan seorang jurnalis terkait dunia maya.

Ia mengatakan bahwa dunia maya adalah sebuah kenyataan “yang tidak bisa kita abaikan; kita harus menuntunnya ke jalan yang baik,” dan membatu kemajuan umat manusia.

“Tapi ketika itu menjauhkan kita dari kehidupan sehari-hari, kehidupan keluarga, kehidupan sosial, dan juga olahraga, kesenian dan kemudian melekat pada komputer, ini adalah penyakit psikologis,” ungkapnya.

Paus mengatakan bahwa tayangan negatif adalah termasuk material cabul dan program yang “kosong,” yang samasekali tanpa nilai-nilai, seperti program yang mendorong relativisme, hedonisme dan konsumerisme.

Ia menyebut konsumerisme dan relativisme sebagai “kanker” dalam masyarakat, menyentil kaitan dengan ensiklikalnya mengenai lingkungan yang akan dirilis 18 Juni.

Paus Fransiskus turut menyentil pilihan orangtua untuk menempatkan komputer di ruang bersama, dan bukan di kamar anak-anak. “Ini adalah beberapa hal yang didapati orangtua” untuk mensiasati masalah tayangan negatif yang ada, ungkapnya.