Kristen AS akan mengikut Tuhan dan bertindak menurut kebenaran: Tolak keputusan MA tentang pernikahan

pray for marriagePemimpin Konferensi Wali Gereja Amerika Serikat, Uskup Agung Joseph Kurtz, menyatakan bahwa keputusan Mahkamah Agung AS yang melegalkan perolehan status nikah bagi pasangan sejenis pada 26 Juni merupakan “kesalahan tragis.”

“Hari ini Pengadilan [MA] kembali melakukan kesalahan. Adalah hal yang sungguh amoral dan tidak adil bagi pemerintah untuk menetapkan bahwa dua orang sejenis dapat membentuk sebuah pernikahan,” ungkapnya seperti dikutip NCR.

Ia menekankan bahwa “arti khusus pernikahan sebagai persekutuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tergambar pada tubuh kita sebagai laki-laki dan perempuan.”

Dalam keputusan dengan margin tipis 5-4 MA negara Paman Sam itu menetapkan bahwa 50 negara bagian harus mengakui status “nikah” pasangan sejenis.

Hakim Anthony Kennedy, yang menuliskan pendapat lima hakim, mengatakan bahwa pengadilan menetapkan pasangan sejenis dapat “mempraktekkan hak fundamental untuk menikah.”

Ia menyebutnya sebagai kebebasan yang harus diberikan pada para pelaku hubungan sejenis, di bawah Amendemen Ke-14, ditetapkan pada 9 Juli 1868 (abad ke-19) yang di antarnya mengatur tentang “Equal Protection” (perlindungan yang sama).

Hakim Antonin Scalia, yang menyuarakan pendapat berbeda (dissent opinion) mengkritik keputusan mayoritas, yang mengangkat-angkat bahasa kebebasan, namun “telah merampas kebebasan yang paling penting” dari rakyat AS yang mereka tegaskan dalam Piagam Kemerdekaan mereka, yaitu kebebasan untuk mengatur diri mereka sendiri, demikian Christian News.

Ia berpendapat bahwa tindakan MA itu telah mencederai prinsip fundamental berdemokrasi di negara itu.

Dalam tanggapan yang menyindir ia mengatakan bahwa kelima hakim yang terhitung sebagai mayoritas telah mendapati bahwa terdapat “hak fundamental” yang tidak dilihat oleh setiap orang pada saat ratifikasi Amandemen Ke-14, dan hampir semua orang sejak waktu itu, sampai 15 tahun lalu, ketika pelaku praktek sodomi mengatakan mereka memiliki “hak” untuk “menikah.”

Tanggapan media

Media-media sekular merayakan keputusan itu. Aljazeera melansir AP memuat berita Presiden Obama menelpon Obergefell untuk mengucapkan selamat.

Presiden Obama mengomentari bahwa keputusan itu merupakan penetapan bahwa “semua orang Amerika diciptakan sederajat.”

Presiden Obama mengaku tidak mendukung agenda revolusi seksual ketika mencalonkan diri sebagai presiden AS pertama kali. Menurut mantan penasihat Gedung Putih David Axelrod, pengakuan itu adalah sebagai strategi untuk memenangkan kursi kepresidenan, demikian TIME. Presiden kemudian mengaku pandangannya “berevolusi” kemudian terang-terangan memberikan dukungan.

Dalam dua periode kepemimpinannya AS menjadi negara pengeksport sodomisme, bahkan membuat komitmen untuk menyebarkannya di seluruh dunia, termasuk menciptakan bidang khusus di badan dunia PBB untuk mempromosikan “hak” orang yang dikelompokkan menurut preferensi seksual mereka.

Pendeta sekaligus aktivis AS Scott Lively menilai kebijakan AS saat ini terhadap Rusia, dikaitkan dengan situasi di Ukraina, adalah karena negara itu menolak agenda sodomisme, dengan menetapkan hukum yang melarang promosi praktek seksual menyimpang kepada anak-anak.

Dalam pemerintahan Presiden Obama, pada 2013, juga dalam hitungan suara yang sama (5-4), MA menganulir poin penting dalam peraturan federal AS yang menetapkan bahwa pernikahan adalah antara seorang perempuan dan seorang laki-laki.

Sejak itu sejumlah hakim negara bagian dan hakim federal telah menganulir peraturan mengenai pernikahan di negara-negara bagian yang ditetapkan secara demokrasi lewat pemilihan suara.

Pada saat yang sama, warga Kristen, dalam banyak kasus pengusaha kecil, yang menolak mendukung gaya hidup yang tak sesuai pemberitaan Alkitab itu telah menghadapi penekanan, tuntutan hukum dan denda yang besar.

Pendidikan di sekolah pemerintah

“Ini adalah hari yang tragis bagi Amerika [Serikat],” ungkap Linda Harvey, dalam surat press Mission America, yang berpusat di negara bagian Ohio.

Di antaranya ia mengingatkan orangtua untuk membuat “keputusan berat” tentang pendidikan anak-anak mereka. Karena “[a]nak-anak kalian sekarang akan diajarkan di sekolah pemerintah bahwa hanya ada satu pandangan tentang seksualitas dan itu adalah bahwa apapun jadi,” tulisnya.

“Hakim mayoritas di pengadilan ini telah melawan kesaksian alam, anatomi, sejarah dan Tuhan Yang Mahakuasa. [Kristus] mengatakan pernikahan adalah antara seorang perempuan dan seorang laki-laki dalam Matius 19,” ungkapnya.

Ia menutup dengan kata-kata: “Oleh karena keputusan yang angkuh dan tak dapat dipertahankan ini, Amerika berdiri melawan Allah, dan kita hanya dapat berdoa bagi belas kasihan-Nya atas bangsa kita.”

Ajaran Kristus tentang pernikahan

Sejumlah pemimpin gereja Protestan dan organisasi pembela keluarga juga menyampaikan kekecewaan mereka atas keputusan MA tersebut. Di antaranya Penne Nance, pemimpin Concerned Women For America, Pdt Samuel Rodriguez, pemimpin National Hispanic Christian Leadership Conference, dan Rusell Moore, pemimpin bidang Etika dan Kebebasan Beragama Southern Baptist Convention.

Uskup Agung Kurtz mengungkit keputusan MA dalam kasus Roe v. Wade yang kemudian melegalisasi aborsi tanpa batasan.

Ia menegaskan bahwa sama seperti keputusan MA itu “tidak membereskan persoalan mengenai aborsi lebih dari 40 tahun lalu, demikian kasus Obergefell v. Hodges tidak membereskan persoalan pernikahan hari ini,” ungkapnya dalam pernyataan resmi.

Gerakan menentang aborsi di AS telah memperoleh angin akhir-akhir ini, namun lebih dari 50 juta anak-anak tak bersalah telah dibunuh ketika mereka masih berada dalam kandungan.

“Yesus Kristus, dengan kasih yang besar, mengajarkan secara jelas bahwa sejak dari permulaan pernikahan adalah persekutuan seumur hidup antara seorang laki-laki dan seorang perempuan,” demikian petikan pernyataan Wali Gereja AS itu.

Sebagai pemimpin gereja ia mengatakan “kami mengikuti Tuhan kami dan akan terus mengajarkan dan bertindak menurut kebenaran ini.”