Hak kebebasan beragama di Amerika Serikat terancam oleh sekularisme

Keluarga Klein, Aaron dan Melissa, serta kelima anak mereka, terpaksa menutup usaha mereka karena kesetiaannya pada ajaran Alkitab. (Foto via Christsfaithfulwitness.blogspot)

Suami dan isteri, Aaron dan Melissa Klein, sebelumnya pemilik usaha kue Sweet Cakes by Melissa, mungkin menyadari bahwa sikap iman mereka akan mendapat serangan, tapi sepertinya tidak sampai pada titik yang mereka hadapi saat ini.

Mereka terpaksa menutup usaha mereka karena tekanan dan serangan yang sarat dengan kebencian, dan seorang hakim di negara bagian Oregon memberikan sanksi denda USD 135,000 (sekitar Rp 1,6 miliar) pada keluarga ini.

[TERKAIT: 6 mitos hak gay dan pendekatan pastoral kristiani]

Semuanya karena kesetiaan terhadap kepercayaan dan keyakinan moral mereka, dan dengan baik-baik menolak membuatkan sebuah kue pengantin untuk dua orang wanita pelaku hubungan sejenis.

Masih belum berhenti di situ, usaha pencarian dana mereka di GoFundMe untuk membayar denda ditutup oleh pengelolah, menyusul komplain dari seorang “aktivis hak pelaku hubungan sejenis.”

GoFundMe beralasan upaya keluarga ini “tidak memenuhi syarat dan ketentuan penggunaan,” karena kebijakannya yang menentang pencarian dana untuk menghadapi “tuntutan formal atas kejahatan yang kejam,….”

Untunglah keluarga Klein masih mendapat bantuan.

Franklin Graham, pemimpin organisasi kemanusiaan Kristen, Samaritan’s Purse, telah menyatakan niatnya untuk membantu mereka, termasuk pemilik usaha Kristen lainnya yang dipaksa untuk membayar denda yang tinggi bahkan kehilangan mata pencarian mereka karena berdiri atas keyakinan Alkitab, demikian Christian Post, 27 April

Seorang nenek yang mengolah usaha kembang di Washington, Barronelle Stutzman, juga diperhadapkan dengan masalah yang sama; dari denda yang mengancam mata pencarian dan semua miliknya, termasuk upaya pencarian dana lewat GoFundMe ditutup 48 jam setelah keluarga Klein.

“Mereka telah mengambil sikap untuk Firman Tuhan, dan mereka tidak boleh berdiri sendirian,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan. “Saya yakin umat Kristen di seluruh negeri kita akan mendukung Aaron dan Melissa dan kelima anak mereka.”

Mantan senator AS Rick Santorum melihat bahwa sikap punitif (menghukum) yang dialami oleh para pengusaha dan individu Kristen di Amerika Serikat bermunculan seiring dengan meluasnya pengaruh sekularisme di negara itu.

“Salah satu tantangan terbesar di negara ini pada empat atau lima tahun terakhir ini adalah meningkatnya tingkat permusuhan terhadap orang beriman yang mengambil sudut pandang publik di tempat usaha mereka atau dalam kemasyarakatan, bahkan di lingkungan sekolah atau militer,” ungkapnya seperti dikutip ChristianNewsWire, April 27.

“Mereka yang ingin menjalani hidup mereka sesuai dengan ajaran Alkitab tidak diberi ruang untuk itu.”

Pernyataan mantan senator itu datang di tengah Mahkamah Agung AS mempertimbangkan kasus-kasus menyangkut “pernikahan sejenis” di sejumlah negara bagian, dan berpotensi mengubah pemahaman pernikahan secara hukum di negara itu. Hal yang sangat dikuatirkan akan berdampak luas terhadap kebebasan beragama.

“Pandangan ini semakin meluas bahwa jika Anda tidak setuju dengan paham ortodoks baru ini, [yaitu] sekularisme yang sekarang datang dari pemerintah, bahwa ini adalah nilai-nilai yang dipegang oleh pemerintah.

“Jika Anda tidak mengikuti nilai-nilai itu, maka Anda bisa dihukum atau diadili karenanya,” ungkap Santorum, yang saat ini menahkodai EchoLight Studio, yang memproduksi film-film bertemakan iman.

Serangan agresif dari penganut sekularisme yang memanfaatkan isu ketertarikan sesama jenis telah menempatkan para individu yang bergumul dengan perilaku ini pada resiko menjadi sasaran tukar menukar kebencian.

Isu ini telah berhasil memecah belah gereja-gereja di Amerika Serikat sampai pada taraf kehilangan pengaruh dan kesaksian dalam kebijakan-kebijakan penting di dalam dan luar negeri.