Sebagian besar negara anggota PBB dukung seruan Austria untuk pemusnahan senjata nuklir

Salah satu foto di situs arkibongbayan.org yang menunjukkan para pengunjukrasa di Filipina menyerukan pemusnahan senjata nuklir. Situs ini turut memuat foto-foto para korban yang menderita akibat serangan nuklir.  (Foto via arkibongbayan.org)

Memperingati tragedi Hiroshima dan Nagasaki yang hancur lebur bersama penduduknya oleh serangan bom nuklir Amerika Serikat pada Perang Dunia II, sejumlah besar negara di dunia kembali menyerukan pemusnahan senjata nuklir yang memiliki dampak sangat mematikan terhadap lingkungan dan mahluk hidup.

159 negara menyatakan dukungan atas seruan Austria untuk memusnahkan senjata nuklir pada Nuclear Non-proliferation Treaty Conference Review yang berlangsung di New York 27 April-22 Mei 2015.

“Jalan satu-satunya untuk memastikan bahwa senjata nuklir tidak akan pernah digunakan lagi adalah dengan memusnahkannya secara menyeluruh,” kata Menteri Luar Negeri Austria, Sebastian Kurz, pada perwakilan 191 negara yang menandatangani perjanjian itu. “Semua negara turut bertanggung jawab untuk mencegah penggunaan senjata nuklir,” ungkapnya seperti dikutip  Channel News.

Sebelumnya, peringatan mengkhawatirkan datang dari dua jenderal masing-masing dari AS dan Rusia, bahwa dengan perkembangan teknologi saat ini, justru dapat memicu bencana nuklir.

(Foto via arkibongbayan.org)

Menulis dalam kolom opini di New York Times (20 April), mantan Jenderal Korps Marinir AS, James E. Cartwright, dan pensiunan Mayor Jenderal Vladimir Dvorkin, keduanya dari komisi pengurangan resiko nuklir Global Zero, memperingatkan bahwa serangan siber (cyber-attack) dapat berakibat pada tanda peringatan keliru yang memicu peluncuran senjata nuklir dan mengakibatkan bencana global.

Mereka menyerukan supaya Rusia dan AS untuk kembali meningkatkan pembicaraan nuklir yang terganggu oleh perkembangan situasi di Ukraina.

AS dan Rusia, bersama Inggris, Perancis, Tiongkok, negara-negara pemilik senjata nuklir, dan anggota NATO, tidak memberi suara dukungan atas seruan Austria itu. Israel, Pakistan, India, dan Korea (Utara) — negara-negara yang diyakini memiliki senjata nuklir — juga tidak terdaftar sebagai pendukung, tulis Channel News.

Perwakilan Tahta Suci di PBB, Uskup Agung Bernadito Auza, berbicara pada 7 Mei menyerukan pemusnahan senjata nuklir karena penggunaannya akan melanggar hukum kemanusiaan internasional, dan mengutarakan keprihatinan terhadap inkonsistensi negara-negera tertentu dalam mengimplementasikan poin-poin dalam NPT (Non-proliferation Treaty), sehingga mengancam kelangsungan perjanjian itu.

Uskup Agung Auza turut menyebutkan tentang pertemuan dengan tokoh-tokoh agama pada 9 April tahun ini, dari unsur Gereja Katolik, Anglikan, Injili, Yahudi, dan Islam, menyuarakan pemusnahan senjata nuklir dari perpektif iman.

 

Berita lainnya:

Holy See’s Permanent Observer: credibility of NPT at stake, News.va (12 Mei 2015).

No to nuclear weapons, yes to nuclear technology – the Holy See’s stance, CNA (28 April 2015).

Сybercriminals may provoke nuclear disaster – US, Russian generals, RT (20 April 2015).

Commemorating a Major U.S. War Crime, NCRegister – Blogs (8 Agustus 2010).

Statement on the Nuclear Non-Proliferation Treaty, World Council of Churches (20 Februari 2004).