Paus Fransiskus: Roh Kudus membawa persatuan, Bapa Pendusta melakukan apa saja untuk memecah-mecah umat Kristen

Paus Fransiskus_Yohanes 17 (2)

Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, dalam pesan video untuk pertemuan John 17 Movement, mengajak umat Kristen untuk menghayati persatuan dalam Tubuh Kristus lewat Roh Kudus. (Foto layar diam Youtube)

“Perpecahan adalah pekerjaan ‘Bapa Pendusta’, ‘Bapa Perbantahan’, yang melakukan apa saja untuk membuat kita terpecah-pecah,” ungkap Paus Fransiskus dalam sebuah pesan video untuk pertemuan John 17 Movement (gerakan Yohanes 17) yang diselenggarakan di Phoenix, negara bagian Arizona, AS, 23 Mei 2015.

Injil Yohanes 17 memuat doa Yesus Kristus bagi murid-murid-Nya dan yang menjadi percaya kepada-Nya “karena pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu,…supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (ayat 20-21). 

Doa Kristus itu menjadi tema perayaan hari rekonsiliasi untuk memohon anugerah kesatuan Kristen tersebut.

“Kita bersama akan mencari, berdoa, untuk anugerah persatuan,” ungkap Paus Fransiskus, mengatakan bahwa ia turut mengikuti pertemuan itu dari Roma.

Semangat persatuan itu dimulai dari “materai satu Baptisan yang kita semua terima,” ungkapnya.

Dengan itu adalah kesatuan dalam jalan yang ditempuh bersama, doa untuk satu dengan yang lain, dan jerih lelah yang sama “demi saudara-saudari kita, dan bagi semua yang percaya pada kepenuhan kuasa Kristus.”

Paus mengungkapkan bahwa “perpecahan adalah luka dalam Tubuh Kristus. Dan kita tidak mau luka ini tetap terbuka.”

“Saya merasa seperti akan mengatakan sesuatu yang bisa terdengar kontroversial, atau bahkan mungkin (dianggap) sesat. Tapi ada yang tahu bahwa, sekalipun dengan perbedaan-perbedaan kita, kita adalah satu,” lanjutnya.

“Dialah yang menganiaya kita. Dialah yang sedang menganiaya orang Kristen saat ini, dia yang mencurahkan di atas kepala kita (darah) kemartiran.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa Iblis tahu “orang Kristen adalah murid-murid Kristus, bahwa mereka adalah satu, mereka adalah saudara!” dan Iblis “tidak peduli apakah mereka Injili atau Ortodoks, Lutheran, Katolik atau Apostolik…ia tidak peduli! Mereka (semua) adalah Kristen,” ungkapnya.

John 17 Movement di antaranya bertujuan untuk membangun Tubuh Kristus dalam kaitan dengan doa, Alkitab, dan persekutuan di antara semua aliran kekristenan, termasuk Katolik, Ortodoks, dan Protestan, yang berpegang pada pengajaran Kristen historis dan ortodoks seperti yang dimuat dalam Pengakuan Iman Rasuli.

Salah seorang peserta dalam pertemuan itu adalah Pdt Giovanni Traettino, seorang pendeta Pentakosta dari bagian selatan Italia, demikian Catholic HeraldPaus Fransiskus mengunjungi jemaat Pentakosta pimpinan Pdt Traetinno pada Juli 2014 lalu.

“Ada orang yang terkejut: ‘Paus mengunjungi kaum injili?’ Tapi ia mengunjungi saudara-saudaranya,” ungkap Paus Fransiskus kepada sekitar 350 anggota jemaat yang hadir waktu itu. Dalam kesempatan itu ia juga meminta maaf untuk penganiayaan oleh Gereja Roma Katolik terhadap kaum Pentakosta, demikian Christian Post.

“Kita sedang menghidupi ekumene (persatuan) dalam darah,” ungkap Paus dalam video itu, dan bahwa “darah kemartiran menyatukan.”

Karena itu, sebagai orang Kristen para peserta dapat lebih termotivasi dalam melakukan seperti dalam kegiatan itu: berdoa, berdialog, mengurangi jarak antara satu dengan lain, memperkuat ikatan persaudaraan.

“Roh Kudus membawa persatuan,” ungkap Paus Fransiskus dalam video yang dibuat oleh televisi Vatikan itu, menggaris bawahi “niat baik kita semua” yang ada bersama-sama dalam perjalanan ini untuk membuka hati bagi pekerjaan Roh.

“Dalam keyakinan bahwa kita mempunyai satu Tuhan: Yesus adalah Tuhan.” Ia hidup dan telah mengirimkan Roh yang Ia janjikan supaya “harmoni di antara semua murid-murid-Nya dapat mewujud nyata.”

Paus mengakhiri pesan video itu dengan ajakan untuk saling mendoakan, dan “berdoa bagi saya, karena saya butuh doa-doa kalian supaya setia pada apa yang dikehendaki Tuhan dalam pelayanan saya.”

 

 

%d bloggers like this: