Keji: Datang sebagai penjaga perdamaian, oknum-oknum tentara Perancis lecehkan anak-anak Afrika

Sebuah pesawat militer mendarat di sebuah kamp pengungsi di Bangui, ibukota Republik Afrika Tengah, (Foto Reuters/Goran Tomasevic via RT)

Sebuah laporan tragis dari badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR, mengungkapkan bahwa sejumlah anak pengungsi di Republik Afrika Tengah (RAT) dilecehkan oleh tentara Perancis yang datang sebagai penjaga perdamaian.

Menurut laporan itu tindak kejahatan pelecehan dilakukan oleh oknum-oknum tentara Perancis di kamp pengungsi Bandara M’Poko, di ibukota RAT, Bangui, antara Desember 2013 dan Juni 2014. Waktu itu misi PBB untuk negara yang dilanda konflik itu, MINUSCA, sedang dalam proses pembentukan, demikian RT, 29 April.

[BERITA TERKAIT: Uskup Agung Bangui kuatirkan komunitas Muslim di Republik Afrika Tengah]

Laporan itu diserahkan oleh pekerja PBB asal Swedia, Anders Kompass, kepada jaksa Perancis, karena tidak adanya tindakan dari PBB, ungkap sumber kepada the Guardian.

Anders, pekerja senior yang telah bekerja untuk urusan bantuan kemanusiaan lebih dari 30 tahun, kemudian dicutikan atas tuduhan membocorkan laporan konfidensial. (Menurut laporan NY Times pengadilan PBB telah mengembalikannya pada pekerjaannya.)

Paula Donovan dari Aids Free World, yang menerima laporan itu dan menyerahkannya ke Guardian, mengungkapan bahwa pelecehan oleh penjaga perdamaian dan pengabaian terhadap korban oleh PBB adalah “memuakan,” namun kebenaran yang menjijikan itu sering terjadi.

Ia mengatakan bahwa respon PBB terhadap kejahatan pelecehan di jajarannya —  dalam bentuk pengabaian, penyangkalan, menutupi-nutupi — harus diselidiki oleh komisi independen.

Sekitar 16 personel militer Perancis dituduh telah melecehkan sekitar 10 anak-anak usia 8-15 tahun, ungkap Paula seperti dilansir AP, 30 April.

“Anak-anak rentan karena mereka lapar dan orangtua mereka tidak ada apa-apa untuk diberikan, sehingga anak-anak terpaksa meminta makanan dari para tentara,” ungkap seorang ibu yang anaknya adalah salah satu korban. Namanya dirahasiakan untuk melindungi identitas anak.

“Mereka memanfaatkan anak-anak, memaksa mereka (red, maaf) melakukan oral seks dan mensodomi mereka.”

Seorang pejabat PBB untuk hak asasi manusia, Zeid Ra’ad al-Hussein, menuduh Perancis menunda-nunda penyelidikan terhadap tentaranya, sedang negara itu menuduh PBB kurang kerjasama, demikian NY Times, melansir bahwa sementara kedua pihak saling melempar tanggung jawab, belum seorang pun yang didakwa atas kejahatan itu.

Presiden Perancis Francois Hollande berjanji akan “menetapkan sebuah contoh” untuk para prajurit yang terbukti bersalah.

 

Konflik selalu menempatkan yang paling rentan pada situasi yang paling tidak menguntungkan.

Manusia bertindak seperti binatang ketika hati nuraninya telah dibutakan oleh dosa.

 

%d bloggers like this: