Intel Mesir: Turki memfasilitasi anggota ISIS dengan paspor; mengulang tragedi Armenia 1915?

Tugu peringatan peristiwa genosida terhadap warga Armenia 1915 di Gereja Apostolik Armenia St. Mary di Glendale. (Foto Creative Common)

Mesir mengatakan bahwa Turki telah mengeluarkan 10.000 paspor bagi anggota ISIS untuk memungkinkan perjalanan di wilayah itu.

Seorang pejabat intel Mesir mengemukakan bahwa negaranya telah menyerahkan laporan yang mendokumentasikan klaim tersebut, demikian media Amerika Serikat WND.

“Turki terus memberi ijin lewat cuma-cuma untuk para pejuang ISIS ke Irak dan Suriah,” ungkap pejabat yang meminta namanya dirahasiakan.

Pada 7 Maret lalu media RT melansir berita bahwa seorang warga negara Turki yang telah menjadi komandan ISIS sedang dirawat di Turki “seperti warga negara lainnya.”

Turki adalah satu-satunya negara yang mengadopsi sekularisme di antara negara-negara berpenduduk Islam, sekalipun sikap negara ini terhadap agama (terlebih khusus Islam) telah lebih longgar.

Belum lama ini pemerintah Turki mengijinkan siswa Muslim menggunakan hijab atau kerudung di sekolah.

April ini Turki mendapat sorotan dunia di tengah peringatan 100 tahun pembunuhan massal warga Armenia, yang menelan korban sekitar 1,5 juta jiwa bangsa pertama yang memeluk kekristenan.

Dengan indikasi bahwa Turki, entah secara terbuka atau di belakang layar, membantu ISIS, maka sejarah kelam itu kembali terulang dengan kebiadaban ISIS terhadap umat Kristen di Irak, Suriah, dan Lybia.

Bahkan secara khusus umat Kristen di kantong-kantong Kristen di Irak dan Suriah banyak di antaranya merupakan keturunan warga Armenia yang mengungsi atau yang selamat dari tragedi kemanusiaan 1915 itu.

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengecam Paus Fransiskus karena menggunakan istilah “genosida” terhadap peristiwa yang menodai sejarah kemanusiaan itu.

“Saya mengecam [P]aus dan ingin memperingatkannya untuk tidak membuat kesalahan yang sama lagi,” ungkapnya seperti dikutip Reuters.

Tapi masyarakat beradab harus mengecam siapapun yang membuat kesalahan yang sama seperti itu.

 

 

Berita lainnya:

Paus Fransiskus: Setelah genosida, kiranya Tuhan menganugerahkan supaya rakyat Armenia dan Turki kembali menyusuri jalan rekonsiliasi, Asia News, 12 April 2015 (teks bahasa Inggris sambutan Pemimpin Gereja Roma Katolik).

Tulisan terkait:

A Genocide Remembered and Denied, Andrew Doran, First Things e-Mag., 23 April 2015.