Ini kelompok sekular liberal yang mendalangi genosida rakyat Armenia 1915

gonosida armenia (2)

Sejumlah warga Armenia dari Urfa yang selamat dari tragedi genosida besar, bersama tulang belulang para korban pembunuhan 1919. (Foto layar gambar dari situs Armenian Genocide Centennial)

EKKLESIASTIKA — Tanggal 24 April lalu menandai peringatan 100 tahun peristiwa genosida rakyat Armenia pada masa transisi Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) ke Republik Turki pada masa Perang Dunia I.1

Diperkirakan antara 800.000 sampai 1,5 juta jiwa etnis Armenia menjadi korban penghancuran sistematis yang dimulai pada 1915.2

Menandai satu abad peristiwa kejahatan terhadap kemanusiaan itu, selain liputan mengenai upacara peringatan di sejumlah monumen, topik lainnya adalah gencarnya penolakan pemerintah Turki terhadap penggunaan istilah “genosida” terhadap bangsa pertama yang memeluk agama Kristen itu.3 (Bangsa Armenia memeluk agama Kristen pada tahun 301, abad ke-4 Masehi.)

Dalam pemberitaan-pemberitaan itu jarang disebutkan tentang kelompok yang menjadi eksekutor pembantaian itu, termasuk latar belakang ideologi mereka.

 

1894-1896

Sebelum peristiwa genosida 1915 rakyat Armenia telah mengalami penderitaan hebat akibat perkembangan geopolitik di wilayah Asia-Eropa, dan dampaknya yang tak menguntungkan bagi Kesultanan Utsmaniyah.

Pada penghujung abad ke-19, rakyat Armenia, yang terus mendapat perlakuan tidak adil, menuntut penghargaan atas hak-hak mereka. Hal itu ditanggapi oleh Sultan Abdul Hamid II dengan pembunuhan massal terhadap etnis Armenia pada 1894-1896.4

Thomas de Waal dalam bukunya Great Catastrophe: Armenians and Turks in the Shadow of Genocide (Oxford Uni. Press 2015) mengutip laporan misionaris Jerman, Johannes Lepsius yang menyebut 88.000 warga Armenia menjadi korban ketika itu. Sumber-sumber lain memperkirakan antara 100.000-300.000 orang menjadi korban.

 

Rakyat Kristen Armenia di Mezireh di bawah pengawalan pasukan bersenjata Turki. (Foto Public Domain)

Perang Dunia I

Penghancuran dalam skala yang lebih dahsyat terjadi pada Perang Dunia I (1914-1918), masa yang menandai munculnya revolusi dan perubahan politik di berbagai wilayah, terlebih khusus paham sosialisme/komunisme yang anti agama, buah dari sekularisme.5

Pada periode ini di Turki terjadi tarik-menarik kekuasaan antara gerakan modern-konstitusional (sekular) dan gerakan syariah-monarkial (Islam), yang bermuara pada berakhirnya pemerintahan dinasti Utsmaniyah.

Dari kelompok berhaluan sekular liberal Turki Muda (Young Turk) yang mengambil alih kekuasaan, terbentuk kelompok Komite Persatuan dan Kemajuan (KPM, Committee of Union and Progress) yang kemudian secara de facto menjadi penguasa.

Para pemimpin KPM,  dikenal dengan trio Pasha yang berasal dari wilayah Utsmaniyah Eropa, menggiring negara mereka masuk ke dalam PD I, dan melaksanakan pembantaian etnis Armenia, termasuk Assiria dan Yunani, yang merupakan komunitas-komunitas gereja purba.

Dari kebijakan mereka terlihat sentimen radikal terhadap warga Kristen.

Rakyat Armenia merupakan kelompok terbesar di antara komunitas-komunitas masyarakat kecil di Kesultanan Utsmaniyah. Diperkirakan jumlah mereka adalah 2 juta orang sebelum genosida 1915 yang berlangsung sampai 1923.6

 

Noda Terbesar

Langkah pertama yang dilakukan otoritas pemerintah adalah melucuti prajurit Armenia di ketentaraan, dari situ mereka menyingkirkan para pemuda, kemudian diikuti dengan pembunuhan, penculikan, pengungsian paksa semua warga Armenia untuk mati di padang gurun Suriah dan Mesopotamia, termasuk konversi paksa dan perampasan properti milik warga Armenia.

Abdulmesid II, Kalifah Islam terakhir dalam dinasti Utsmaniyah, menyebut tentang pemusnahan rakyat Armenia itu: “Saya menunjuk pada pembantaian-pembantaian yang mengerikan itu. Semua itu adalah noda terbesar yang pernah mempermalukan bangsa dan ras kita. Itu semua adalah pekerjaan Talat dan Enver [dua dari tiga Pasha].”7

Di antara timbunan cerita tentang kesengsaraan dan kejahatan yang tak terlukiskan yang dilakukan oleh militer, paramiliter, dan rakyat biasa terhadap rakyat Armenia, Thomas de Waal turut menyebutkan beberapa kesaksian dari rakyat Armenia yang selamat karena warga Turki yang berani mempertaruhkan nyawa demi orang tak bersalah.8

 

Refleksi terhadap dukungan Turki terhadap ISIS

Kejahatan yang dideskripsikan dalam sejarah genosida rakyat Armenia seperti menjadi baru dengan tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh ISIS di Suriah, Irak, dan Lybia, wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Kesultanan Utsmaniyah.

Ironisnya, Turki terindikasi mendukung ISIS, yang disebut oleh sejumlah pemimpin Muslim sebagai “anti-agama,”9 dan “musuh nomor satu Islam.”10

Banyak orang sekarang ini menganggap Turki sebagai ‘negara Islam’. Pada kenyataannya, Republik dengan penduduk sebagian besar memeluk agama Islam ini menerapkan sekularisme a la  laïcité Perancis.

Paham radikal ini menuntut warga negara untuk meninggalkan topi keagamaan mereka ketika berurusan dengan hal-hal menyangkut pemerintahan, dan dengan demikian negara secara praktis merupakan pemerintahan ateisme. Itu sebabnya, Islam pun mendapat banyak tekanan setelah kehadiran Republik Turki.

Contohnya pelarangan menggunakan tutup kepala/kerudung bagi para siswi Muslim — larangan itu belum lama ini dibatalkan. Pembatalan ini pun nampaknya sebagai bentuk akomodasi untuk kelanjutan pemerintahan sekularisme di negara itu, yang kemungkinan memanfaatkan politik Islam.

Dan dengan indikasi keterlibatan Turki saat ini membantu kelompok ISIS, yang dikonfirmasi oleh tokoh-tokoh Kristen dan pemberitaan media,11 maka pemerintah Turki kembali menggunakan tindakan yang tidak berprikemanusiaan, yaitu dengan menggunakan kelompok radikal, entah organik maupun bentukan, untuk mencapai tujuan-tujuannya dengan melakukan teror, membunuh target-target penentang, dan menciptakan kekacauan untuk memastikan ketergantungan pada pemerintah dan kekuatan senjata.

Darah rakyat Armenia masih terus berseru-seru dari atas tanah menuntut pengakuan atas genosida yang ditimpakan kepada mereka, dan pengembalian aset-aset pribadi dan gereja yang disita oleh pemerintah Turki.

Sementara itu, darah dan penderitaan komunitas-komunitas Kristen dan kelompok lainnya di Suriah, Irak, Lybia dan sekitarnya, yang ditumpahkan oleh ISIS, akan terus menuntut pertanggung jawaban dari oknum-oknum pemerintah Turki maupun entitas lainnya di Barat atau di mana saja yang mendukung ISIS untuk mencapai tujuan sosio-politik ekonominya.

Sama seperti terhadap Kain, Tuhan Allah akan menuntut pertanggung jawaban dari seorang yang membunuh saudaranya.

 

 

  1.  “Genosida” (gabungan dari Yunani geno “etnis, bangsa, atau suku” dan Latin cide “pembunuhan”) adalah sebuah istilah yang dipakai pertama kali oleh Raphael Lemkin, seorang Yahudi yang selamat dari pembantaian oleh Nazi Jerman,  untuk menggambarkan pembunuhan sistematis dan kekerasan termasuk kekejaman terhadap etnis Yahudi dan Armenia (http://armeniangenocide100.org/en/the-armenian-genocide/, akses 9 Mei 2015).
  2.  http://armeniangenocide100.org/en/the-armenian-genocide/, akses 9 Mei 2015.
  3. Lih. mis. http://www.reuters.com/article/2015/04/14/us-turkey-armenia-pope-erdogan-idUSKBN0N51WB20150414, akses 9 Mei 2015
  4.  http://armenianhistory.info/from-1820-to-1914/, akses 9 Mei 2015.
  5.  Pada masa PD I inilah, di tahun 1917, kekaisaran Kristen Rusia berakhir dan diganti oleh pemerintahan Marxis Bolshevik yang mengeksekusi keluarga Tsar Rusia, dan membantai jutaan umat Kristen Ortodoks (lih. http://www.history.com/topics/russian-revolution, akses 9 Mei 2015; http://www.3saints.com/russchurchhistory.html#10, akses 9 Mei 2015). Karena itu, adalah suatu keajaiban bahwa Rusia saat ini kembali memeluk tradisi Kristennya setelah kejatuhan Uni Soviet.
  6.  http://armeniangenocide100.org/en/the-armenian-genocide/
  7.  Najmuddin; Najmuddin, Dilshad; Shahzad (2006). Armenia: A Resume with Notes on Seth’s Armenians in India. Trafford Publishing, seperti dikutip Wikipedia.
  8.  Thomas de Waal, Great Catastrophe: Armenians and Turks in the Shadow of Genocide (Oxford Uni. Press 2015), https://books.google.com/books?id=c2KzBQAAQBAJ&pg=PT33&lpg=PT33&dq=Johannes+Lepsius+88.000+Armenians+Hamidian&source=bl&ots=k9xDMxqMEI&sig=Oczf4CMcYBXTtpjcrtFOV4Ig2bw&hl=en&sa=X&ei=8ZRJVZuIBsO0yAT9sIH4CA&ved=0CB8Q6AEwAA#v=onepage&q=Johannes%20Lepsius%2088.000%20Armenians%20Hamidian&f=false
  9.  Sheik Mohammed-Amin Jemal Umer, Ketua Majelis Islam Etiopia, menanggapi pembunuhan warga Etiopia, mengatakan bahwa yang menyebut diri “Negara Islam” (ISIS) adalah organisasi anti-agama yang beroperasi dengan menggunakan nama agama (http://yubelium.com/2015/04/24/etiopia-meratapi-para-martirnya-di-lybia-salah-satu-korban-adalah-muslim/).
  10.  Pimpinan tertinggi umat Islam di Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz al-Sheikh, menyebut ISIS di antara “musuh nomor satu” Islam (http://yubelium.com/2014/08/20/pimpinan-tertinggi-islam-arab-saudi-sebut-isis-musuh-nomor-satu-islam-paus-fransiskus-menghentikan-mereka-adalah-sah/).
  11. http://www.aleteia.org/en/world/article/syrian-bishop-calls-for-end-to-western-allies-financing-of-jihadists-in-syria-5855946085498880?page=2