Umat Kristen AS bergumul dalam doa soal pernikahan Kristen dan kebebasan beragama

prayformarriage (2)Sejumlah gereja dan organisasi Kristen yang berpegang teguh pada ajaran dan tradisi Alkitab tentang panggilan keluarga telah menyerukan gerakan doa bersama

untuk memohon campur tangan Tuhan dalam uji materi tentang pernikahan di Mahkamah Agung Amerika Serikat, 28 April 2015 mendatang.

Sembilan hakim MA akan mendengar materi lisan mengenai konsep pernikahan di negara itu, dan memberikan keputusan penting sekitar apakah “pernikahan sejenis” akan dilegalisasi di seluruh negeri,

atau negara-negara bagian dapat mempertahankan otoritasnya untuk menetapkan definisi pernikahan sebagai antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

“Harga dari salah [memahami] pernikahan adalah sangat besar, dan seperti dalam hal yang menyangkut Revolusi Seksual, kebanyakan dampak buruknya ditanggung anak-anak.

“Adalah sangat penting bagi negara kita dan generasi yang akan datang bahwa kita berdiri di mana Allah berdiri mengenai hal ini,” ungkap Russell Moore, ketua Komisi Etika dan Kebebasan Beragama (KEKB) gereja Protestan terbesar di AS, Southern Baptist Convention.

Komisi ini meluncurkan gerakan #Pray for Marriage pada Selasa, 7 April.

Organisasi Family Research Council  juga mendeklarasikan hal yang sama, mendesak orang percaya untuk berdoa dan berpuasa, dengan fokus pada “pengakuan dosa, pertobatan, dan pentahiran.”

 

Gereja Katolik

Konferensi Waligereja AS telah menyerukan kepada umat Katolik untuk mengambil bagian dalam upaya membela “kehidupan, pernikahan, dan kebebasan beragama.”

“Kebaikan masyarakat menuntut supaya kehidupan, pernikahan, dan kebebasan beragama dikembangkan dan dilindungi,” demikian situs KWAS, menyentil program kesehatan pemerintah AS (HHS Mandate) yang memaksakan penyediaan layanan aborsi, dan upaya untuk merubah pemahaman pernikahan.

“Panggilan untuk Berdoa adalah pengingat bagi kita semua bahwa kita bersandar kepada Allah dalam segala hal,” demikian petikan dari Kardinal Sean O’Malley, Uskup Agung Boston.

Tokoh-tokoh Katolik juga mengajak umat untuk berpartisipasi dalam March for Marriage ke-3, 25 April 2015 di Washington DC sebagai dukungan untuk pernikahan, untuk mendoakan para hakim MA, dan menunjukkan komitmen terhadap kebaikan anak-anak.

 

Gereja Ortodoks

Sambutan serupa muncul dari kalangan Gereja Ortodoks Amerika Utara. “Datang dan tunjukkan dukungan untuk pernikahan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang diteladankan kasih Tuhan kita bagi Mempelai-Nya,” demikian seruan Uskup Agung New York sekaligus Metropolitan Amerika Utara, Joseph.

Surat bertangal 26 Maret itu turut memuat keprihatinan bahwa keputusan MA akan memberi dampak yang serius terhadap kebebasan beragama di AS.

 

Kebebasan beragama

Sebelumnya MA telah membatalkan poin penting dalam peraturan federal AS (dikenal dengan DOMA) yang menetapkan bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Keputusan itu dijadikan alasan sejumlah hakim negara bagian untuk membatalkan definisi pernikahan yang ditetapkan lewat pemungutan suara.

Sejumlah perusahaan raksasa telah turut menggunakan pengaruh mereka untuk merubah pemahaman pernikahan di AS.

Penerapan “hak-hak” pelaku hubungan sejenis telah berakibat pada pemasungan kebebasan beragama, saat ini terutama nampak di bidang bisnis. Pemilik usaha kembang, kue, jasa fotografi, antara lain, yang sehari-hari melayani orang-orang dengan berbagai latar belakang.

Mereka menolak menggunakan keterampilan dan nama bisnis mereka menjadi pesan yang mendukung gaya hidup yang tidak sesuai ajaran Alkitab, dan karena itu telah diberi sanksi hukum atau menghadapi sanksi hukum.

 

Pray for Marriage

“[Umat] Kristen harus berdoa supaya kita akan tetap teguh berpegang, lepas dari apakah pengadilan tertinggi di negara kita memahami apa yang tidak bisa diubah atau tidak.

“Kita harus bisa mengasihi sesama kita untuk memiliki rasa percaya diri sebagai umat yang telah mendengar firman Tuhan dan rasa belas kasih dari orang-orang yang sedang berada dalam misi bersama Allah,” ungkap ketua KEKB pada peluncuran gerakan #PrayforMarriage.

 

Diperbarui 6 Mei 2015.