Pertemuan tokoh Agama Budha dan Islam hasilkan “Pernyataan Yogyakarta”

Foto bersama dengan latar Candi Borobudur pada pertemuan puncak umat Buddha-Islam Internasional di Hotel Manohara, Borobudur, Kabupaten Magelang, Rabu (4/3/2015). (Foto via TribunNews)

(ANTARA News) Pertemuan tingkat tinggi pemimpin Buddha dan Islam dari 15 negara di Yogyakarta pada Selasa (3/3) dan ditutup di kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Rabu, menghasilkan “Pernyataan Yogyakarta.

Para tokoh kedua agama tersebut menolak penyelahgunaan agama untuk mendorong diskriminasi dan kekerasan. Buddha dan Islam telah disalahgunakan oleh beberapa pihak untuk tujuan politik.

Mereka memahami perlunya memperkuat peran pemerintah untuk menolak diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Berdasarkan instrumen hukum yang telah diterima secara universal seperti Artikel 20 dari “International Covenant on Civil and Political Rights dan United nations Human Rights Council Resolution 16/18.”

Selengkapnya

Berita lainnya:

Borobudur Jadi Saksi Deklarasi Komitmen Bersama Islam-Buddha, TribunNews (4 Maret 2015).

“Kami juga menolak penyalahgunaan agama untuk mendorong diskriminasi dan kekerasan. Meski perlu saya tegaskan, ekstrimisme dan radikalisme bukan hanya muncul dari umat Islam. Hampir semua agama muncul kelompok (ektrimis) itu. Jadi jangan sampai ada setereotip dan mengeneralisasikan satu agama saja,” jelas Din dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Manohara tersebut.