Pakistan: Empat warga Muslim di antara korban jiwa, salah satunya coba mencegah penyerang masuk ke dalam gereja

(foto via freemalaysiatoday)

Korban jiwa akibat serangan terhadap dua gereja di Youhanabad, Lahore. bertambah menjadi 17 orang setelah Khushi Masih dan Barkat Masih menghembuskan nafas terakhir akibat luka-luka yang diderita, demikian Asia News, 16 Maret.

Seorang ibu dan remaja laki-laki berusia 12 tahun terhitung di antara 13 martir Kristen. Akash Masih, 15, adalah salah satu dari yang mencegah pelaku pemboman masuk ke dalam gereja Katolik St Yohanes. Ia memblokir  pelaku dengan tubuhnya.

Sementara itu, empat warga Muslim turut menjadi korban dalam serangan terkutuk itu. Menurut laporan mereka adalah Abdul Majeed, seorang petugas kepolisian, Sadiq dan Irshad Muhammad (ayah dan anak), pemilik toko di depan gereja Anglikan, dan Muhammad Ramzan, seorang supir. Bp Sadiq adalah yang mencegah pelaku serangan di Gereja Kristus masuk ke tempat ibadah itu.

Tokoh-tokoh agama Islam telah mengecam serangan bom yang dilakukan dengan meledakkan diri itu.

“Tidak ada pemisahan antara Taliban yang baik dan yang tidak baik; siapapun yang bersalah harus dihukum,” ungkap Allama Thair Ashrafi, ketua Majelis Ulama Pakistan, dalam jumpa pers di Lahore Press Club bersama 20 akademisi Islam lainnya. Ia menyebut pemboman itu sebagai “tragedi besar,” demikian Asia News.

“Hanya hewan yang membunuh [orang] dan menghancurkan gereja, mesjid, imambargah, dan tempat-tempat beribadah lainnya,” kata Abdul Kabor Azad, seorang khatib di Mesjid Badshahi – kedua terbesar di Pakistan. “Kebanyakan ulama telah bersatu melawan terorisme dan banyak yang telah mendapat ancaman karena berbicara melawan Taliban.”

“Kami turut merasakan penderitaan yang dialami saudara-saudara Kristen kami,” ungkapnya. “Bersama-sama kita harus mencoba membangun negara yang aman dan sejahtera. Saya minta warga Kristen untuk tetap toleran.”

Situasi di Youhanabad yang merupakan tempat tinggal banyak warga Kristen menjadi kacau, menyusul aksi protes dan main hakim sendiri. Dua orang dilaporkan dibunuh dengan kejam karena dituduh terlibat dalam aksi pemboman.

Mgr Joseph Coutts, Uskup Agung Karachi dan Ketua Wali Gereja Pakistan, bersama Mgr Joseph Arshad, Uskup Faisalabad, telah mengecam pembunuhan terhadap dua orang tersebut, dan mendesak umat Kristen untuk “menjaga kedamaian” dan menyerukan “setiap orang untuk tidak main hakim sendiri.”

Gubernur Punjab, Shahbaz Sharif, mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi di Youhanabad adalah “konspirasi terburuk untuk memecah belah bangsa” demikian tulisan media Sanaa17 Maret.

Ia mengatakan bahwa teroris tidak memiliki agama dan tidak pantas disebut manusia, dan musuh perdamaian akan mengalami kekalahan telak. Pakistan turut merasakan dukacita saudara-saudara Kristennya, ungkapnya sambil memerintahkan supaya pelaku kekacauan dan perusakan, termasuk pembunuhan terhadap dua orang menyusul peristiwa bom itu diproses secara hukum.

Terus meningkatnya tindak terorisme di seluruh belahan dunia memanggil masyarakat internasional untuk mempertimbangkan strategi yang diterapkan selama ini oleh kekuatan-kekuatan dunia, termasuk faktor-faktor lainnya seperti ketidak seimbangan ekonomi global, neo-kolonialisme, kemiskinan akut, penggunaan drone (pesawat tanpa awak) yang menyumbang pada keputus asaan dan kekerasan yang semakin meluas.