Menangisi para penganut monoteisme

Lukisan Abraham mengorbankan Ishak (1650) oleh Laurent de la Hire. Ujian Allah terhadap iman dan kesetiaan Abraham, bapa orang percaya, merupakan salah satu titik perbedaan antara Islam dan Yahudi (serta Kristen), yaitu siapa yang diminta untuk dikorbankan di Gunung Moria, tempat yang diberi nama Abraham “TUHAN menyediakan” (Kejadian 22:14). Tampak di belakang seekor domba jantan yang menjadi pengganti sang anak. (Gambar via Lepoudcaste)

EKKLESIASTIKA — Perputaran dunia saat ini tidak menggembirakan bagi kaum monoteistik, lebih khusus yang menganut agama-agama Abrahamik.

Umat Nasrani, terutama yang tinggal di Timur Tengah dan Afrika Barat, sedang dirampok dan dibantai tanpa belas kasihan; meminjam ungkapan Paus Fransiskus menanggapi kebiadaban pembunuhan 21 pria Koptik: semata-mata karena mereka mengaku Kristus.

Para pengikut Kristus menderita bersama-sama para kawanua mereka yang beragama Islam. Ironinya, umat Muslim harus menerima kenyataan bahwa ketidak adilan yang ditimpakan kepada mereka dilakukan atas nama agama mereka sendiri. Mereka pun menjadi korban dua ketidak adilan: 1) terusir dari rumah dan negeri kelahiran mereka dan 2) menderita sentimen negatif orang yang terjual pada propaganda Islam sebagai agama teroris.

Yang kedua itu setidaknya dialami oleh para Muslim di Perancis. Mereka bersama umat Yahudi, agama sepupu, sedang was-was dengan meningkatnya sentimen anti Muslim dan anti Yahudi di negara itu.

Ironis memang, karena meningkatnya sentimen anti Yahudi di Eropa Barat adalah akibat kebijakan elit-elit politik negara Israel (negara sekuler yang mensponsori pawai homoseks di Kota Suci Yerusalem) terhadap rakyat Palestina. Hanya sedikit di antara rakyat Palestina yang beragama Kristen, sebagian besar beragama Islam.

Jadi ketiga agama yang mengklaim Abraham sebagai bapa: Yahudi lewat Ishak, Islam lewat Ismael, dan Kristen lewat iman, sedang dibunuh, dirampok, dijadikan pengungsi, dan didiskriminasi.

Yang paling ironis adalah seolah-olah semua itu dilakukan oleh yang satu kepada yang lain: Islam membunuhi dan merampoki Kristen, Yahudi membunuhi dan merampasi Islam, dan Kristen yang diam saja ketika umat Islam dan Yahudi beresiko mengalami diskriminasi dan holokaus, atau yang menjadi penggerak kebijakan ‘negara-negara Kristen’ yang berkuasa saat ini.

Semua itu diperparah oleh perdebatan yang dipicu kedangkalan teologi orang-orang dengan karakter yang masih dalam pembentukan, termasuk orang-orang yang terus menjaga luka sejarah supaya terus meradang, dan orang-orang yang pekerjaannya adalah meracun dan mengadu domba.

Sementara itu, kita melihat badan dunia PBB seperti anjing ompong yang nyaring menggonggong, barangkali jika disuruh pula. Inkompetensi PBB tidak hanya terlihat dari penyelesaian masalah Irak, Libya, Suriah, dan Republik Afrika Tengah, tapi juga dalam menyikapi wabah Ebola yang sampai merenggut nyawa lebih dari 9000 orang di negara-negara Afrika Barat.

Perang saudara di Ukraina Timur, yang berpotensi memicu ketidak stabilan global, terus membuat bumi gelisah. Di Ukraina, yang mayoritas penduduknya menganut Kristen Ortodoks, orang-orang sedang saling bunuh (atau dibuat saling bunuh).

Sementara kita berharap dan berdoa bagi pulihnya PBB, kita mungkin bertanya-tanya, ke mana arah Indonesia di zaman yang semakin edan ini.

Mengapa pertanyaan monoteisme membawa-bawa nama Indonesia? Karena secara konstitusional, Indonesia mengaku sebagai negara beragama (bukan “negara agama”) yang monoteistik: Ke-Tuhan-an Yang Mahaesa (Pancasila sila pertama).

Itu sebabnya, jika ada tangan tersembunyi di balik semua kejadian yang sedang membuat kita menangisi para pengikut monoteisme, maka adalah konsekuensi logis bahwa tangan itu juga sedang bekerja untuk (di?) Indonesia. Arahnya pasti tak jauh dari yang lainnya. Dari mana ia mulai bekerja butuh kekritisan dan perenungan lebih jauh.

Itu sebabnya, masyarakat Indonesia tidak boleh sekedar menangis melihat kenyataan yang dialami para penganut monoteisme…kalau boleh jadilah pintar. Karena jika demikian, apapun jalan yang sudah digariskan bagi negara-bangsa yang besar ini, dengan penduduk menempati empat terbesar di dunia, maka tidak akan ada penyesalan di kemudian hari. Itu hanya akan membuat anak-anak di masa depan merasa bangga.