Hasil voting PCUSA atas definisi pernikahan: Penolakan terhadap Alkitab

Salah satu gereja Protestan di Amerika Serikat dikenal dengan nama Presbyterian Church (USA) hari ini resmi menerima “pernikahan sesama jenis,” hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam sejarah Gereja Kristen.

Sebelumnya, Sidang Umum PCUSA ke-221 Juni 2014 lalu telah menetapkan amandemen terhadap konstitusi gereja yang mengubah definisi pernikahan dari “antara seorang laki-laki dan seorang perempuan” menjadi “antara dua orang, secara tradisional seorang laki-laki dan seorang perempuan.”

Langkah yang semakin membuka lebar jalan bagi pendeta-pendeta dan gereja-gerejanya yang telah terpengaruh aliran sekularisme untuk memberkati hubungan sesama jenis ke dalam “pernikahan.”

[TERKAIT: Kembali pada Kitab Suci: Teolog ingatkan Gereja AS]

Keputusan itu masih harus disetujui oleh mayoritas Presbytery (sebanding dengan wilayah) di lingkungan PCUSA yang saat ini berjumlah 171. Jumlah mayoritas untuk lolosnya amandemen itu adalah 86.

Sampai pada malam 17 Maret, 86 wilayah dalam proses voting telah menetapkan setuju terhadap amandemen itu, sedang 42 menolak, demikian Layman Online.

[UPDATE: Hasil voting yang cukup dekat: 87 setuju dan 73 menolak, 3 abstain.]

Situasi ini telah diprediksi sebelumnya. Pada 2010-2011, gereja yang lahir dari gerakan Reformasi ini telah meloloskan peraturan yang membolehkan mereka yang secara terbuka mempraktekkan hubungan sejenis untuk menjadi pendeta, diaken, atau penatua.

“Kami melihat bahwa upaya ini untuk mengubah apa yang secara jelas telah Allah tetapkan (tentang pernikahan) sebagai ungkapan penolakan terhadap Alkitab,” demikian tanggapan Presbyterian Lay Committee (PLC),

organisasi yang berjuang untuk mengembalikan PCUSA pada tradisi Reformasi, yang menempatkan Alkitab sebagai dasar iman Kristen (seperti dalam motto Sola Scriptura).

Keputusan untuk menyetujui apa yang tidak diberkati Tuhan itu bertentangan dengan Pengakuan-Pengakuan Iman (Confessions) dan ribuan tahun kesetiaan terhadap perintah Allah yang jelas (di dalam Alkitab), lanjut tanggapan itu.

PLC menyerukan jemaat-jemaat yang masih menjunjung sejarah dan tradisi Reformasi untuk “menolak dan memprotes,” lewat cara yang konkrit, seperti membuat keputusan majelis yang memprotes keputusan itu dan pengalihan dana perkapita (uang yang dibayarkan setiap anggota gereja untuk dikirim ke Sidang Umum)

dan tunjangan lainnya kecuali, atau sampai, mereka “bertobat, dan mengembalikan kalimat ‘antara seorang perempuan dan seorang laki-laki’ lewat amandemen di Sidang Umum 2016.”

PC(USA) awalnya merupakan denominasi gereja Reformasi dengan jemaat-jemaat yang mempunyai komitmen kuat terhadap tradisi Alkitab. Situasi berubah setelah kurang-lebih 80 tahun sekolah-sekolah teologi di Amerika Serikat, termasuk yang terafiliasi dengan gereja ini,

beralih dan menerapkan metode kritik Alkitab yang lahir dari gerakan sekularisme di Eropa, yang diantaranya menolak keilahian Kristus, inspirasi Alkitab, mujizat-mujizat, dan hal-hal yang supranatural.

Panjangnya jalan perjuangan ini tidak boleh menjadi penghalang, demikian diungkapkan Carmen Fowler LaBerge, presiden PLC.

“Suara kenabian dalam PCUSA untuk menyuarakan kebenaran dan memanggil orang ke dalam pertobatan telah hilang menyusul voting yang mengubah definisi pernikahan,” tulisnya di LO.

“Sekali lagi sama seperti yang kami katakan pada Juni ‘Allah tidak bisa dipermainkan’, dan mereka yang menggantikan Kebenaran Allah yang tidak tergantikan dengan keinginan mereka sendiri akan didapati bersalah di hadapan Allah yang kudus. PLC akan terus menyerukan pertobatan dan reformasi: pertobatan bagi mereka yang jelas telah melakukan kesalahan dan reformasi PCUSA menurut Firman Tuhan.”

 

 Diperbarui 28 Mei 2015.