Hari ke-32 (Kamis): Mengendalikan mulut

Seiring dengan emosi kita menjadi lebih stabil, tidak mudah cemas atau dihasut, kita melihat bahwa ketenangan terpancar dari sikap dan perkataan kita.

Kita tidak lagi mudah memotong pembicaraan orang, berbicara dengan marah, atau menjadi keras dan kasar tanpa alasan yang sesuai. Kita tidak merasa perlu untuk “memenangkan setiap perbincangan.”

Melainkan, kita merasa cukup untuk hanya berada dalam percakapan atau menaburkan benih dan meninggalkan pada orang lain untuk menuai hasilnya.

Ketenangan di dalam diri cenderung akan mengurangi keras suara dan kecepatan kita berbicara, dan kita lebih bisa dan puas untuk berbicara tentang kebenaran dalam cinta-kasih, dengan jelas dan kemurahan hati.

 

Catatan:
Renungan ini dikembangkan dari 12 langkah menuju ke kerendahan hati oleh St. Bernard Clairvaux yang dirangkum oleh Msgr. Charles Pope dalam “A Medieval Monk’s 12 Steps to Deeper Humility” (Aleteia, 28 Februari 2015). Ke-12 langkah ini akan dimuat dalam hubungan dengan masa Pra-Paskah.