Hari ke-31 (Rabu): Ketenangan emosi

Banyak masalah emosi kita berakar pada keangkuhan dan egoisme. Orang yang angkuh mudah tersinggung, mudah merasa terancam. Karena ketakutan melahirkan amarah.

Tanda-tanda awal keangkuhan adalah rasa ingin tahu yang berlebihan, sikap dan pikiran yang sembrono. Semua itu menyebabkan kehidupan emosional kita menjadi tidak teratur dan keluar jalur.

Akan tetapi seiring dengan semakin jauh kita melangkah menuruni bukit keangkuhan, kita menjadi semakin tidak egois, dan dengan demikian semakin tidak takut dan tidak mudah tersinggung.

Dengan kehidupan mental kita lebih terfokus pada hal-hal yang lebih utama dan bukan pada yang remeh menambah kestabilan dalam pikiran kita. Kita tidak begitu mudah terbawa ke dalam gosip, intrik, rumor, dsb.

Kita tidak mudah dihasut oleh siasat para pembuat iklan dan tidak mudah terganggu oleh 24/7 putaran “berita baru” yang dipasarkan oleh televisi kabel. Kita menjadi semakin bijaksana, dan tak tergesa-gesa membuat penilaian yang seringkali mengganggu ketenangan kita.

Orang yang rendah hati lebih menaruh percaya kepada Tuhan, sehingga tidak mudah diganggu ketenangannya oleh semua siasat mental ini. Adalah pikiran yang menghasilkan perasaan.

Demikian, dengan pikiran kita menjadi lebih terukur, dan kesimpulan kita menjadi lebih rendah hati dan cermat, emosi kita tidak mudah berubah tak stabil, dan kita boleh mencapai ketenangan dan kesadaran yang lebih besar.

Ini adalah anugerah yang besar untuk diminta dan ditumbuhkan dalam kasih karunia Allah.

 

Catatan:
Renungan ini dikembangkan dari 12 langkah menuju ke kerendahan hati oleh St. Bernard Clairvaux yang dirangkum oleh Msgr. Charles Pope dalam “A Medieval Monk’s 12 Steps to Deeper Humility” (Aleteia, 28 Februari 2015). Ke-12 langkah ini akan dimuat dalam hubungan dengan masa Pra-Paskah.