Hari ke-29 (Senin): Penundukan diri

Orang yang egois dan angkuh menolak melakukan apa yang diberitahu untuk dilakukan dan seringkali tidak peka terhadap kebutuhan orang lain dan kebaikan bersama. Orang yang angkuh berpikir bahwa ia lebih tahu daripada kebajikan yang mengatur kehidupan bersama.

Akan tetapi, dengan semakin dalam kita melangkah turun dari bukit keangkuhan, kita semakin tersadar akan dampak yang kita miliki terhadap orang lain dan memahami bahwa kita harus belajar berinteraksi dan bekerjasama untuk mencapai tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Kerendahan hati mengajarkan pada kita bahwa dunia tidak berpusat pada diri kita dan keinginan kita; kadangkala kebutuhan orang lain lebih penting daripada kepentingan diri sendiri.

Kerendahan hati mengajarkan pada kita bahwa sekalipun hak pribadi kita adalah penting, peraturan ada untuk melindungi kebaikan bersama.

Kerendahan hati juga membuat kita lebih bisa mengutamakan kepentingan orang lain dan kebajikan yang mengatur masyarakat di atas kepentingan sendiri.

 

Catatan:
Renungan ini dikembangkan dari 12 langkah menuju ke kerendahan hati oleh St. Bernard Clairvaux yang dirangkum oleh Msgr. Charles Pope dalam “A Medieval Monk’s 12 Steps to Deeper Humility” (Aleteia, 28 Februari 2015). Ke-12 langkah ini akan dimuat dalam hubungan dengan masa Pra-Paskah.