Hari ke-22 (Sabtu): Takut akan Allah

corong_minyakDengan rasa takut mengiring Kristus masuk ke Yerusalem. Rasa takut ini bukan terhadap kerumunan orang yang hari itu bersorak-sorai “Hosana” dan nanti “Salibkan Dia!”

Rasa takut ini adalah rasa takut akan Allah.

Rasa takut yang bukan yang memperhamba, melainkan yang datang dari rasa cinta dan hormat yang dalam kepada Pencipta segala sesuatu.

Memenuhi hati dengan rasa heran dan kagum terhadap segala pekerjaan-Nya dan siapa diri-Nya.

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan (/hikmat)” (Amsal 1:7; bnd. 9:10).

Takut akan Tuhan berarti berpaling kepada Dia ketika kita mencari jawaban atau pengertian, dengan kesadaran bahwa Ia adalah sumber hikmat dan pengetahuan.

Takut akan Tuhan berarti lapar dan haus akan kebenaran-Nya.

Takut akan Tuhan berarti membalikkan corong yang membuat semuanya terarah kepada kita, sehingga semuanya terarah ke atas kepada Allah yang adalah sumber segala sesuatu.

Takut akan Allah adalah langkah pertama untuk membawa kita turun dari gunung keangkuhan/kesombongan.

 

Catatan:
Renungan ini dikembangkan dari 12 langkah menuju ke kerendahan hati oleh St. Bernard Clairvaux yang dirangkum oleh Msgr. Charles Pope dalam “A Medieval Monk’s 12 Steps to Deeper Humility” (Aleteia, 28 Februari 2015). Ke-12 langkah ini akan dimuat dalam hubungan dengan masa Pra-Paskah.