Hari ke-14 (Kamis): Hindari membagi dunia antara kawan dan lawan

Di tengah penderitaan yang dialami oleh banyak saudara-saudari kita di berbagai belahan dunia. Ada godaan untuk melihat orang lain yang memakai label agama atau etnik tertentu sebagai musuh. Namun, iman kita mengajak kita untuk melihat melampaui apa yang sedang terjadi. Seperti Kristus melihat jauh melampaui penderitaan-Nya.

Henri Nouwen memberikan ceramah seputar perumpamaan anak yang hilang dan lukisan Rembrandt “Kembalinya Anak Yang Hilang.” Renungan ini adalah salah satu dari kumpulan refleksi yang dibuat dalam bentuk booklet sebagai renungan masa Pra-Paskah. (Gambar via Wikipedia)

Petikan renungan Pra-Paskah berikut ini adalah dari Henri J. M. Naouwen, seorang penulis Kristen yang banyak menginspirasi pengikut Kristus saat ini. Ia menunjukkan penundukan diri pada kehendak Allah bagi dirinya.

Salah satu pesan inti Injil adalah “Kasihi musuhmu.” Ketika kita bergumul dengan kebutuhan, kekuatiran dan ketakutan, kita cenderung membagi dunia menjadi antara kawan dan lawan. Tetapi Tuhan memberi hujan untuk yang jahat juga untuk yang baik. Tuhan tidak perlu membagi dunia menjadi antara mereka yang mengikut Dia dan mereka yang melawan Dia, karena Tuhan mengasihi setiap orang secara unik dan tanpa syarat. Allah kita ingin supaya kita juga berlaku demikian, tapi kita hanya bisa melakukan ini jika kita percaya ada kasih Allah yang tanpa syarat bagi kita, dan jika kita tidak secara berlebihan menggantungkan diri pada persetujuan atau penolakan dari sesama kita. Kita akan bisa mengasihi musuh kita tepat ketika kita tidak lagi merasa perlu membagi dunia menjadi antara kawan dan lawan. 

Mengasihi musuh kita adalah pesan inti Injil karena itu mencerminkan cara Allah mengasihi kita.

 

 

Sumber:

Henri J. M. Naouwen, From Fear to Love: Lenten Reflections on the Parable of the Prodigal Son, booklet. Ed. Mark Neilsen.