Gereja Ortodoks Rusia prihatin erosi moral di Eropa terkait aborsi dan pernikahan, sekularisme

(Foto via pravmir)

Ketua Bidang Hubungan Eksternal Gereja Ortodoks Rusia, Metropolitan Hilarion Volokolamsk, menyebut aborsi sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, demikian Interfax merujuk siaran pers lembaga tersebut.

“Kita seharusnyalah memberikan hak untuk lahir kepada setiap orang. Dan setiap orang harus diberi hak untuk hidup sepanjang Tuhan menghendaki,” ungkapnya juga meratapi praktek eutanasia dan bunuh diri dengan bantuan tenaga medis (assisted suicide).

Sebelumnya ia telah mengungkapkan keprihatinan gereja terbesar di kalangan Ortodoks Timur itu tentang erosi terhadap pernikahan sebagai persekutuan permanen antara seorang perempuan dan seorang laki-laki.

“Sepuluh dari 19 negara yang telah melegalkan status sipil pasangan sejenis berada di Eropa, yang secara langsung memberi pengaruh terhadap Rusia sebagai bagian dari peradaban Eropa,” ungkapnya menyayangkan respon mereka terhadap peraturan yang ditetapkan oleh Moskow untuk membatasi “propaganda homoseksualitas terhadap anak-anak di bawah umur.”

Selain itu Metropolitan Hilarion, mengungkapkan keprihatian terhadap “manifestasi agresif sekularisme” yang menghina dan mencemooh hal-hal yang disucikan oleh umat beragama dengan alasan kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ia menilai hal demikian sebagai ancaman terhadap perdamaian yang berkeadaban.

Ia juga mengungkapkan penyesalan terhadap peningkatan tajam ekstrimisme dan situasi kelompok-kelompok keagamaan kecil, termasuk Kristen, di Timur Tengah, sekaligus penghargaan atas dokumen yang diajukan oleh Vatikan, Lebanon dan Rusia pada Dewan HAM PBB di Jenewa Maret 13 dan ditanda-tangani oleh 65 negara.

Negara-negara yang menanda tangani dokumen itu menyerukan kepada masyarakat internasional untuk “mendukung kehadiran historis semua kelompok etnik dan agama yang telah tertanam lama di Timur Tengah” dan “kembali menegaskan komitmen mereka untuk menghargai hak setiap orang, secara khusus hak kebebasan beragama, yang dilindungi dalam peraturan-peraturan fundamental hak asasi manusia internasional,” demikian Pravmir.

Metropolitan adalah jabatan setingkat Uskup Agung yang membawahi sebuah wilayah gerejawi. Gereja Ortodoks Rusia mendapat tekanan yang sangat berat di bawah pemerintahan Komunis Rusia selama tiga generasi. Namun, mengalami kebangkitan pasca runtuhnya Soviet.