Siasati pemadaman listrik, Uganda ubah sampah organik jadi energi biogas

Lokasi geografi Republik Uganda di Benua Afrika (biru tua). Motto negara ini adalah “Untuk Tuhan dan Negaraku.” (Gambar via Wiki)

Negara Afrika Timur, Uganda, mengubah sampah organik yang berasal dari rumah jagal di ibukota Kampala menjadi sumber listrik. Sekitar 700 hewan ternak, 200 domba, dan 300 ayam disembelih untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat setiap hari.

Masalah yang dihadapi tidak hanya sampah organik yang berasal dari sisa penyembelihan, darah hewan, air kotor, dan sebagainya, tapi juga pemadaman listrik setiap hari di kota itu ditambah polusi dan pemborosan dari penggunaan generator disel.

Situasi ini akan berubah dengan masuknya pilot project di Uganda, Etiopia, dan Tanzania, yang akan mengubah sampah organik menjadi biogas. Proyek yang dibiayai oleh Swedish International Development Coorporation Agency (SIDA) lewat Bio-resources Innovations Network for Eastern Africa (Bio-innovate) bertujuan untuk menyediakan pelatihan dan teknologi untuk penyediaan energi, penghematan listrik, dan mengurangi emisi.

Rumah Jagal Kampala sudah mengolah sampah organiknya, dan menghemat jutaan shilling, mata uang Uganda.

Lewat proses fermentasi sampah organik itu mengeluarkan metana, yang ditampung dan dibakar untuk menghasilkan listrik. Sekarang generator mereka beroperasi dengan energi yang lebih ramah lingkungan.

“Kami menghasilkan rata-rata 10 sampai 15 meter kubik biogas setiap hari,” ungkap Joseph Kyambadde, kepala biokimia di Universitas Makarere yang terlibat dalam proyek tersebut, demikian Reuters.

“Dengan 60 meter kubik gas kami bisa mengfungsikan sekitar 15 lampu keamanan, 15 deep freezer dan 15 pendingin di tempat pemotongan hewan, membantu penghematan sekitar delapan juta shilling Uganda (sekitar USD 2.800) per bulan.”