Rabu Abu: Menyesali dosa, menerima tanda salib

Rabu Abu

(Ilustrasi: The Gospel Side)

Masa Pra-Paskah diawali dengan peringatan Rabu Abu, hari pertama dari 40 hari masa sebelum peringatan Paskah Kristen.

Di beberapa gereja masa menjelang Paskah ini disebut juga Minggu-Minggu Sengsara, berpuncak pada Pekan Suci (Senin setelah Minggu Palma sampai Sabtu), yang mengantar pada Minggu Paskah, perayaan kebangkitan Tuhan.

Perhitungan masa 40 hari itu di luar hari-hari Minggu, yang merupakan “paskah-paskah kecil” di sepanjang persiapan menyambut hari kebangkitan Kristus dari orang mati.

Rabu Abu biasanya disertai dengan pemberian tanda salib di dahi dengan menggunakan minyak atau air bercampur arang/debu. Gereja-gereja Barat biasanya menggunakan arang sisa palem yang dipakai pada Kamis Putih tahun lalu.

Abu merupakan lambang dukacita atau penyesalan atas dosa.

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah berfirman “sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19)

Rabu Abu mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanya sementara. Dengan tanda salib di dahi artinya kita mengakui keberdosaan kita dan memohon anugerah Allah dalam kehidupan kita.

 

Sastrawan besar Leo Tolstoy (1828-1910) menulis sebuah karya agung tentang sebuah pengakuan:

 

Tolstoy

Leo Tolstoy, sastrawan Rusia, menulis karya-karya besar seperti novel Perang dan Damai dan Anna Karenina. (Foto CC Wikipedia)

Aku, seperti pencuri di kayu salib itu, telah percaya ajaran Kristus dan diselamatkan. Ini bukan perbandingan yang terlalu mengada-ada, melainkan gambaran terdekat akan kondisi keputusasaan rohani dan kengerian terhadap masalah hidup dan kematian yang sebelumnya kualami, dan sekarang kedamaian dan kebahagiaan yang kudapati.

Aku, seperti pencuri itu, tahu bahwa aku telah hidup dan hidup dalam keburukan. Aku, seperti pencuri itu, tahu bahwa aku tidak bahagia dan menderita. Aku, seperti pencuri di kayu salib itu, terpaku oleh suatu kekuatan pada derita dan jahat kehidupan. Dan setelah penderitaan dan kejahatan hidup yang tak berarti apa-apa itu, aku, sama seperti pencuri itu, menunggu datangnya ngeri gelap kematian.

Dalam semua ini aku persis seperti pencuri itu, tetapi perbedaannya adalah bahwa pencuri itu sudah sekarat, sementara aku masih hidup. Mungkin pencuri itu merasa yakin bahwa keselamatannya terletak di sana sesudah kematian, tetapi aku tidak bisa puas dengan itu, karena selain kehidupan setelah kematian, kehidupan masih menungguku di sini. Dan aku tidak memahami hidup itu. Bagi ku ia tampak mengerikan. Tapi tiba-tiba aku mendengar dan memahami kata-kata Kristus, dan hidup dan mati tak lagi tampak jahat, dan bukannya keputus asaan, aku merasakan kebahagiaan dan kegembiraan hidup yang tak terganggu oleh kematian.

 

Ayat-ayat renungan:

Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,…(Mazmur 113:7)

Bagi orang yang najis haruslah diambil sedikit abu dari korban penghapus dosa yang dibakar habis, lalu di dalam bejana abu itu dibubuhi air mengalir. (Bilangan 19:17)

Hai puteri bangsaku, kenakanlah kain kabung, dan berguling-gulinglah dalam debu!  Berkabunglah seperti menangisi seorang anak tunggal, merataplah dengan pahit pedih! Sebab sekonyong-konyong akan datang si pembinasa menyerangmu. (Yeremia 6:26)

 

 

Sumber:
Mark Zimmermann, 40 Questions & Answers for Lent (Missouri: Creative Communications for the Parish, 2007).
Leo Tolstoy, “I, Like the Thief,” dalam Bread and Wine: Readings for Lent and Easter (Maryknoll, New York: Orbis, 2012 [cetakan keempat belas]), 330-331, terjemahan.
Ash Wednesday, www.churchyear.net, http://www.churchyear.net/ashwednesday.html.

 

Diperbarui 9 Februari 2016.