Protestan dan Katolik bersatu jaga inti pernikahan

pernikahan KristenSejumlah tokoh dari kalangan Protestan dan Katolik yang tergabung dalam konsorsium Evangelicals and Catholics Together (ECT, Gabungan [Protestan] Injili dan Katolik) di Amerika Serikat telah mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang menggaris bawahi inti pernikahan Kristen dan menolak upaya gerakan sesama jenis untuk merubahnya.

“Kami harus mengatakan sejelas-jelasnya bahwa hidup bersama sebagai pasangan sejenis, sekalipun disetujui oleh negara, adalah bukan pernikahan,” demikian terungkap dalam pernyataan yang bertajuk “The Two Shall Become One Flesh: Reclaiming Marriage” (sehingga keduanya menjadi satu daging: mengklaim kembali pernikahan) itu.

“Orang Kristen yang ingin hidup setia terhadap Kitab Suci dan tradisi Kristen tidak bisa menyetujui pemalsuan realitas ini, apapun status hukumnya.”

Pernyataan itu merangkum ajaran Alkitab tentang pernikahan dan menyimpulkan: “Pernikahan adalah tanda khusus dan istimewa tentang penyatuan Kristus dengan umat-Nya dan penyatuan Allah dengan ciptaan-Nya — dan pernikahan hanya dapat menyatakan tanda itu ketika seorang perempuan dan seorang laki-laki dengan sungguh-sungguh dipersatukan dalam persekutuan yang permanen.”

Dr Timothy George, ketua Beeson Diviniy School di Samford University, Alabama, mengatakan bahwa pernyataan itu merupakan hasil kerja ECT selama tiga tahun.

Katolik dan Injili “terus berbeda dalam banyak persoalan,” ungkap Dr George kepada Baptist Press. Ia mengatakan bahwa mereka menyadari penuh perbedaan-perbedaan itu, namun anggota ECT “merasa bahwa saling melengkapi antara seorang perempuan dan seorang laki-laki dalam sebuah pernikahan” dapat menjadi kesaksian bersama Katolik dan Injili.

“Kami merasa terpanggil untuk mengangkat suara mengenai masalah ini,” ungkap dosen Sejarah Gereja ini.

Pernyataan itu menyoroti kenyataan bahwa “pernikahan sedang berada dalam krisis di dunia Barat,” tampak dari merosotnya tingkat pernikahan, pergaulan bebas dan normalisasi hubungan sejenis.

“Revolusi dalam hukum pernikahan dan keluarga kita, sudah demikian jauh, maju dengan mengatas namakan kebebasan dan kesetaraan. Tapi ide-ide yang mulia ini di sini disalah terapkan.

“Ketika suatu masyarakat secara sistematis menyangkal perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hukum dan adat kebiasaan, martabat mendasar kita menghilang, gambar Allah dalam diri kita menjadi kabur, hal yang tak betul dibuat menjadi hal yang sah dan mereka yang menolak untuk menerimanya dicap sebagai orang fanatik yang irasional,” ungkap pernyataan itu.

“Dengan mengingat kewajiban untuk menyatakan kebenaran dalam kasih, kita harus mencari cara membedakan pernikahan yang sejati dan penyimpangan terhadapnya, dan kita harus melakukan itu tanpa meninggalkan ruang publik,” ungkap pernyataan itu.

“Kita berhutang pada sesama warga negara kita untuk terlibat dalam kesaksian sosial mengenai kebenaran tentang pernikahan, yang bersama keluarga, merupakan fondasi tak tergantikan bagi masyarakat sehat dan berkemanusiaan.”

Pernyataan itu turut menyesali “ketidak-adilan yang dilakukan terhadap mereka yang mengalami ketertarikan sesama jenis,” namun dengan tegas menyatakan bahwa upaya gerakan sesama jenis untuk mengubah pemahaman pernikahan “mengancam kebaikan bersama” dan “memutar balikkan Injil.”

Pernyataan ini akan dimuat dalam terbitan First Thing Maret 2015, dengan daftar sekitar 30 figur pemimpin Kristen yang mengesahkan pernyataan itu. Pdt Dr Rick Warren, pendeta megachurch dari Southern Baptist, dan Daniel Akin, presiden Southeastern Baptist Seminary di North Carolina termasuk di dalamnya.

Anggota ECT termasuk Dr Robert Gagnon, penulis dan dosen di Pittsburgh Theological Seminary (terafiliasi dengan PC USA) dan ahli Sistematika Teologi Dr Kevin Vanhoozer dari Trinity Evangelical Divinity School (TEDS). Dr Gagnon merupakan ahli Alkitab yang telah menulis banyak tentang kesaksian Alkitab manyangkut seksualitas, terlebih khusus homoseksualitas. Bukunya The Bible and Homosexual Practice: Texts and Hermeneutics merupakan buku sumber otoritatif menyangkut isu tersebut.

Deskripsi buku tersebut di Amazon.com mengatakan bahwa Dr Gagnon “menunjukkan bahwa upaya untuk menempatkan penolakan Alkitab terhadap praktek hubungan sejenis sebagai hal yang tidak relevan terhadap konteks saat ini merupakan kegagalan dalam menyikapi teks Alkitab dan data ilmu pengatahuan saat ini secara adil.”

Konsorsium ECT dipelopori oleh Institute on Religion and Public Life (institut keagamaan dan kehidupan bermasyarakat) yang dibentuk pada 1990 oleh komentator sosial Katolik Richard John Neuhaus.

 

Berita lainnya:

Evangelical-Catholic coalition: marriage in crisis, Baptist Press (21 Januari 2015).

Gereja Protestan AS dukung pernyataan Paus Fransiskus tentang pernikahan Kristen, Yubelium (18 November 2014).