Para pemimpin Gereja Katolik dan Ortodoks di TT dukung pembentukan negara Palestina

Pertemuan para pemimpin Gereja Katolik dan Ortodoks di Timur Tengah di Libanon. Dari samping kiri ke kanan, Patriark Gereja Katolik Melkit Gregorius III Laham, Patriark Antiokia Gereja Ortodoks Yunani Yohanes X, Patriark Gereja Maronit Libanon Kardinal Bechara Rai, Patriark Gereja Ortodoks Suriah Ignatius Aphrem II, dan Patriark Younan Gereja Katolik Suriah Ignace Yusuf III. (Foto via CR)

Para pemimpin gereja Katolik dan Ortodoks Timur bertemu di Bkerke, Libanon, 27 Januari 2015, mendiskusikan situasi umat Kristen di Timur Tengah, lebih khusus para pengungsi dari Irak dan Suriah, dan ketidakstabilan yang terus menguncang wilayah itu.

Dalam sebuah pernyataan bersama mereka mengungkapkan “solidaritas dengan semua yang menderita dan terluka martabatnya, yang dirampas hak-haknya, para sandera dan tahanan perang yang menjadi sasaran penyiksaan.”

Dalam kesempatan itu mereka menyerukan penghentian dana untuk mendukung organisasi teroris dan memberi masukan supaya perbatasan ditutup jika perlu untuk membatasi gerakan kelompok teroris.

Pernyataan itu juga menyebut secara khusus dua pemimpin gereja Suriah, Uskup Agung Gereja Ortodoks Suriah di Aleppo, Yohanna Ibrahim, dan Uskup Agung Gereja Ortodoks Yunani di Aleppo, Boulos Yaziji, yang diculik pada April 2013 di Suriah Utara yang dikuasai oposisi bersenjata.

Kardinal Bechara Rai, patriark Gereja Maronit Libanon, mengatakan bahwa pertemuan itu adalah untuk “menyatukan suara kami” memohon pada dunia Arab dan masyarakat internasional untuk membantu menyediakan bantuan yang diperlukan bagi para pengungsi, dan membantu mereka kembali ke rumah mereka dan membangun tempat tinggal mereka kembali, demikian CNS.

Ia menekankan perlunya umat Kristen dari Irak dan Suriah yang sedang mengungsi “untuk bisa tinggal di negara asal mereka supaya melestarikan tradisi dan misi Kristen mereka.”  Sementara kekuatiran muncul bagi para pemuda Kristen di wilayah itu, karena mereka tak mempunyai pilihan lain selain emigrasi.

Kardinal Rai menunjukkan bahwa perang itu, penghancuran dan pembunuhan, kehilangan tempat tinggal dan pengusiran, gelombang kekerasan dan peningkatan organisasi-organisasi teroris sedang menghancurkan “budaya moderasi dan keterbukaan dan peradaban Islam-Kristen yang telah kami bangun bersama melalui masa suka dan duka selama lebih dari 1.400 tahun, dengan awalnya telah menaruh dasar kekristenan di negara-negara kami sebelum lahirnya Islam.”

“Sudah diketahui bahwa konflik Israel-Palestina dan Israel-Arab adalah yang mendasari berbagai tragedi di Timur Tengah yang kita hidupi saat ini,” ungkap Kardinal Rai.

Dalam pernyataan bersama itu, para pemimpin Kristen tersebut menyerukan kepada umat Kristen di Timur Tengah untuk “menyatukan sikap dan bekerja sama dengan semua yang memiliki niat baik untuk menghentikan perang dan tindakan teror dan membangkitkan perdamaian yang adil dan menyeluruh di bagian dunia yang sedang menderita ini.”

Para pemimpin Kristen itu juga menyerukan pembentukan negara Palestina dengan ibukota Yerusalem Timur sesuai dengan proposal solusi dua-negara untuk mengatasi konflik Palestina-Israel, dan memohon bagi kembalinya para pengungsi Palestina ke tanah kelahirannya.

Selain itu mereka juga mengkritisi situasi politik di Libanon.

Berbagai permasalahan yang diangkat dalam pertemuan ini akan dibahas pada pertemuan para Kardinal di Roma pada 12-13 Februari dan sidang para patriark Gereja Katolik Timur pada 17 Februari 2015, demikian pernyataan itu.