Minggu Pra-Paskah I: Pencobaan, pertobatan, dan percaya kepada Injil

Bacaan Alkitab: Markus 1:9-15

Kristus meminta baptisan dari Yohanes, sekalipun Ia tanpa dosa, demikian sungguh-sungguh berempati dengan kita, manusia berdosa. Dan karena Ia juga dicobai, maka Ia bukan tidak mengerti pencobaan-pencobaan yang harus kita alami.

Kristus sendiri dicobai, hal ini bukan hanya untuk mengajarkan kepada kita bahwa mengalami pencobaan bukan dosa, tetapi juga kemana kita berpaling ketika menghadapi cobaan.

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Di masa penantian hari kebangkitan Kristus ini, kita kembali diingatkan akan baptisan kita, dan dengan kerendahan hati berbalik dari segala pemberontakan kita.

Pengkhotbah besar John Wesley (1703-1791) memberitakan: Jikalau kita telah bertobat, kitapun dipanggil untuk “percaya kepada Injil.”

Demikian beberapa catatan dari khotbahnya yang diberi judul “Pertobatan Orang Percaya” (24 April 1767):

Memahami bahwa dalam diri kita akan selalu ada dosa yang mengintip untuk memisahkan kita dari Allah, maka kita perlu membawa pertobatan itu ke dalam kehidupan Kristen kita. Pertobatan, sekalipun setelah kita telah dibenarkan.

Pertobatan ini adalah pengetahuan bahwa kita ini adalah manusia berdosa, yang bersalah, yang tak berdaya, sekalipun kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah. Hanya ketika kita mengakui penyakit yang kita derita, baru kita bisa memperoleh kesembuhan.

Dengan pertobatan demikian kita diajak untuk “percaya kepada Injil.”

Percaya kabar baik tentang keselamatan yang besar, yang telah Allah persiapkan bagi semua orang. Percaya bahwa Kristus yang adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” sanggup “menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah.” Ia dapat menyelamatkan kita dari dosa yang masih ada di dalam hati kita.

Karena itu, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!”

Percaya dan kita akan langsung melihat bahwa “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”

Dalam kehidupan orang percaya, pertobatan dan iman persis menjawab satu dengan yang lain.

Dalam pertobatan kita merasakan dosa yang tersisa di dalam hati kita, dan melekat dalam kata-kata dan tindakan kita: dengan iman, kita menerima kuasa Allah di dalam Kristus, memurnikan hati kita, dan membersihkan pekerjaan kita.

Dalam pertobatan, kita terus merasakan bahwa kita layak mendapatkan hukuman untuk perangai, kata-kata, dan tindakan kita: dengan iman, kita sadar bahwa Pembela kita kepada Bapa terus memohon bagi kita, dan dengan demikian terus menyingkirkan semua kutuk dan hukuman dari diri kita.

Dalam pertobatan ada keyakinan yang menetap bahwa kita sama sekali tanpa pertolongan: dengan iman kita tidak hanya menerima belas kasihan, “tetapi kasih karunia untuk menolong di” setiap saat kita membutuhkan.

Pertobatan melepaskan kemungkinan akan adanya bantuan lain; iman menerima semua bantuan yang kita butuhkan dari Dia yang beroleh segala kuasa di sorga dan di bumi.

Pertobatan mengatakan, “Tanpa Dia aku tidak bisa melakukan apa-apa:” Iman mengatakan, “Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Melalui Dia kita tidak hanya bisa mengatasi, tapi mengusir, semua musuh dari jiwa kita. Melalui Dia kita bisa “mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan;” ya, dan berjalan dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.

 

Sumber:

John Wesley, The Repentance of Believers, di Global Ministries United Methodist Church, http://www.umcmission.org/Find-Resources/John-Wesley-Sermons/Sermon-14-The-Repentance-of-Believers.

Matthew Henry, Commentary on the Whole Bible Volume V (Matthew to John), http://www.ccel.org/ccel/henry/mhc5.