Ini kegiatan tiga mahasiswa Muslim yang dibunuh di Chapel Hill

Deah, Yusor dan Razan. (Foto via Mashable)

Kisah tragis terjadi mendekati Hari St. Valentin di Amerika Serikat. Tiga orang Muslim dengan usia relatif muda menjadi korban pembunuhan berdarah dingin.

Korban adalah Deah Barakat, 23, mahasiswa ilmu kedokteran gigi tingkat dua di North Carolina University. Akhir Desember lalu ia menikah dengan Yusor M. Abu-Salha, 21, lulusan universitas negeri yang berencana melanjutkan studi ke NCU musim gugur depan.

Keduanya, bersama adik perempuan Yusor, Razan M. Abu-Salha, 19, ditembak tepat pada organ vital di apartemen mereka di Chapel Hill.

Polisi menetapkan tersangka pelaku sebagai CSH, alias Craig, 46, yang menyerahkan diri kepada polisi. Akun media sosialnya mengungkapkan bahwa ia adalah seorang ateis.

Polisi sedang menyelidiki alasan dibalik tindakan keji tersebut. Isteri pelaku mengklaim bahwa tindakan suaminya karena frustrasi dengan masalah parkiran, tidak ada kaitan dengan masalah agama atau iman para korban.

Namun, ayah Yuzor, Dr Mohammad Abu-Salha, menyangkal hal itu. Ia menilai cara pembunuhan itu seperti sebuah eksekusi.

“Ini bukan sengketa tempat parkir, ini adalah kejahatan atas dasar kebencian terhadap satu kelompok (hate crime). Ia telah mencari-cari masalah dengan anak saya dan suaminya¬†sebelumnya, dan ia berbicara kepada mereka dengan pistol di pinggangnya. Dan mereka sudah merasa kurang enak¬†dekat dengan dia, tapi mereka tidak menyangka kalau ia bisa bertindak sejauh itu,” ungkap sang ayah seperti dikutip NewsObserver.

 
Peristiwa tragis ini menjadi perhatian di media sosial dengan hastag #MuslimLivesMatter, mirip dengan hastag yang menjadi populer karena peristiwa pembunuhan remaja berlatar belakang Afrika-Amerika di Ferguson, Missouri, #BlackLivesMatter.

Media Mashable menyoroti kegiatan-kegiatan ketiganya yang membuat banyak orang kehilangan mereka.

Deah adalah seorang mahasiswa kedokteran yang ingin menggunakan pendidikannya untuk membantu orang-orang yang susah.

Musim panas ini ia rencananya akan berangkat ke Turki bersama tim untuk menyediakan pelayanan kesehatan gigi bagi para pengungsi Suriah di negeri itu.

Ia juga bekerja bersama organisasi kemanusiaan United Muslim Relief (UMR), dan merupakan seorang sukarelawan yang membagikan perlengkapan kesehatan gigi untuk para tunawisma di Durham, North Carolina.

28 Januari di akun Twitternya ia menulis: “Betul-betul menyedihkan mendengar orang berkata kita harus ‘bunuh orang Yahudi’ atau “bunuh orang Palestina’. Seolah-olah itu dapat menyelesaikan masalah (geleng-geleng kepala).”

Tahun 2013 lalu Yusor menjadi sukarelawan di fasilitas kesehatan gigi di Turki. Pengalamannya tentang menenangkan seorang anak yatim piatu ia ceritakan di akun Facebooknya.

Ia dan suaminya adalah anggota pendiri cabang UMR di North Carolina.

Razan adiknya adalah mahasiswi tingkat pertama jurusan arsitek dan disain lingkungan di North Carolina State University.

Ia adalah petugas yang mengorganisir kegiatan bulanan UMR menyediakan makanan bagi para tunawisma di Raleigh.

Farris, adik laki-laki Deah, menulis di akun media sosialnya bahwa ketiganya “bersama pada akhirnya adalah pemenang,” kutip Mashable.

“Kehidupan ini hanya selalu merupakan sebuah tes, dan mereka telah lulus dengan warna-warni beterbangan. Mereka telah menang, dan untuk itu aku bersukacita,” tulisnya. “Aku dengan tulus berbahagia bagi masing-masing mereka. Aku berdoa Allah memberikan kami yang ditinggalkan kesabaran untuk menerima ini.”