Hari ke-5 (Senin): menerima jalan salib

Hari ke-5 (Senin): menerima jalan salib

Setiap orang percaya tahu bahwa Kristus menerima jalan salib demi kita.
Tapi tak cukup hanya mengetahui.
Setiap kita harus menemukan salib itu.

Penderitaan-Nya akan menjadi sia-sia bagi kita jika kita tidak bersedia mati bagi Dia,
sama seperti Dia mati bagi kita.

Jalan Kristus adalah jalan yang pahit.
Ujungnya adalah kemenangan terang dan kehidupan, tapi diawali dengan kandang yang dingin,
dalam palungan tempat makan hewan;
diperhadapkan dengan kebutuhan yang besar: lewat penderitaan, penyangkalan, pengkhianatan,
dan akhirnya kehancuran penuh dan kematian di atas kayu salib.

Jika kita menyebut diri kita pengikut-Nya, kita harus bersedia mengikuti jalan yang sama.

J. Heinrich Arnold, “The Center,” dalam Bread and Wine: Readings for Lent and Easter (Maryknoll, New York: Orbis, 2012 [cetakan keempatbelas]), 61-66, terjemahan.

 

Ayat-ayat renungan:

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.

Markus 8:31-32; 34b-36