Hari ke-4 (Sabtu): Memberi kepada orang yang membutuhkan

Salah satu kebiasaan yang dilakukan orang saat menyambut Paskah adalah memberikan bantuan kepada mereka yang berkekurangan.

Kebiasaan ini datang dari praktek Gereja mula-mula yang memperhatikan orang-orang yang miskin dan papah.

Memberi kepada mereka yang membutuhkan adalah juga cermin ungkapan terima kasih kita atas anugerah Allah yang berlimpah dalam Yesus Kristus.

Ia yang dengan kemurahan yang dahsyat memberikan hidup-Nya di atas kayu salib bagi kita semua.

Jean Pierre de Caussade

Buku karya Jean Pierre de Caussade: Kepasrahan dalam Penyediaan Ilahi atau juga diterjemahkan dengan Sakramen Saat Sekarang. Lihat profil de Caussade di CCEL dengan mengklik gambar ini. (Gambar: Christian-way)

Jean-Pierre de Caussade (1675-1751), seorang penulis dan imam Serikat Yesus di Perancis, dalam tulisannya “Penyerahan adalah Segalanya” menasihatkan pembacanya:

Penyerahan hati kepada Allah sudah mencakup setiap bentuk ketaatan kepada Allah, karena itu berarti menyerahkan keberadaan diri seutuhnya ke dalam perkenanan-Nya. 

Karena penyerahan ini lahir dari kasih yang murni, di dalamnya termasuk penerimaan terhadap semua yang datang dari pekerjaan Allah. Sehingga, pada setiap saat kita menghidupi penyerahan yang tiada batas, penyerahan yang mencakup semua bentuk dan tingkat kepelayanan kepada Allah. 

Bukan urusan kita untuk menentukan apa tujuan utama dari kepatuhan sedemikian. Tugas kita satu-satunya adalah menundukkan diri dalam semua yang Allah pertemukan kepada kita, dan siap sedia untuk melakukan kehendak-Nya setiap waktu. 

 

 

Ayat-ayat renungan:

Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” (Mazmur 82:4)

Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat,orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. (Lukas 14:13)

 

Sumber:
Mark Zimmermann, 40 Questions & Answers for Lent (Missouri: Creative Communications for the Parish, 2007).
Jean-Pierre de Caussade, “Surrender is Everything,” dalam Bread and Wine: Readings for Lent and Easter (Maryknoll, New York: Orbis, 2012 [cetakan keempat belas]), 26-27, terjemahan.