Hari ke-3 (Jumat): Menyangkal diri sendiri

Berpuasa adalah salah satu aktivitas yang sering mengisi masa Pra-Paskah umat Kristen.

Maksudnya adalah untuk kita merenungkan dengan keberadaan kita apa yang telah Kristus lakukan bagi kita.

Pelayanan-Nya diawali dengan berpuasa selama 40 hari.

Dengan berpuasa kita turut menghayati apa yang telah Kristus jalani demi membangun jembatan rekonsiliasi antara Allah dan manusia.

Salah satu cara berpuasa adalah dengan apa yang disebut “puasa Daniel,” yaitu hanya makan sayur dan buah-buahan selama 40 hari.

Masa Pra-Paskah adalah juga saat di mana orang dengan sengaja mengorbankan suatu aktivitas atau kegemaran mereka sebagai bentuk penyangkalan diri. Ada pula yang membuat komitmen untuk meninggalkan hal-hal yang masih berdiri menghalangi hubungan pribadi yang penuh dengan Kristus Tuhan.

Dietrich Bonhoeffer

Dietrich Bonhoeffer, salah seorang teolog Protestan yang terkenal di abad ke-20. Ia turut menentang pemerintahan fasis Hitler, dan dieksekusi di kam penahanan beberapa minggu sebelum Jerman menyerah. (Foto via www.dbonhoeffer.org)

Dietrich Bonhoeffer (1906-1945), seorang teolog Jerman yang martir pada masa Nazi, dalam perenungannya tentang salib menulis demikian:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya.” Sama seperti Petrus ketika menyangkal Kristus berkata, “Aku tidak kenal orang itu,” demikian yang harus dikatakan seorang murid kepada dirinya sendiri. 

Penyangkalan diri tidak bisa diartikan berbagai tindakan menyiksa diri atau pertapaan – sekalipun hal demikian begitu hebatnya. Penyangkalan diri bukan pula bunuh diri, karena dalam tindakan itu bisa kehendak diri sendiri yang menegaskan kemauannya. 

Penyangkalan diri berarti hanya mengenal Kristus, dan bukan lagi diri sendiri. 

Artinya hanya memandang kepada Dia yang berjalan di depan kita, dan bukan pada jalan yang tampak terlalu sulit bagi kita. 

Sekali lagi, penyangkalan diri adalah semata-mata mengatakan: Kristus berjalan mendahului kita, berpegang erat kepada-Nya. 

Ayat-ayat renungan:

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. (Yoel 2:12-13)

 

Sumber:
Mark Zimmermann, 40 Questions & Answers for Lent (Missouri: Creative Communications for the Parish, 2007).
Dietrich Bonhoeffer, “Discipleship and the Cross,” dalam Bread and Wine: Readings for Lent and Easter (Maryknoll, New York: Orbis, 2012 [cetakan keempat belas]), 49-50, terjemahan.