Apa alasan Muslim Niger menghancurkan gereja-gereja ketika protes Charlie Hebdo? — Sikap DGD

Sebuah gereja di Niger yang dibakar oleh masyarakat yang melakukan protes terhadap majalah satir Perancis. (Foto: layar diam Youtube/AFP)

Sebuah gereja di Niger yang dibakar oleh masyarakat yang melakukan protes terhadap majalah satir Perancis. (Foto: layar diam Youtube/AFP)

Protes umat Muslim di Niger pada 16-19 Januari terhadap penerbitan kartun majalah satir Charlie Hebdo, berakhir dengan hancurnya lebih dari 70 gereja dan sekurangnya 10 korban jiwa.

Padahal, Charlie Hebdo pun mengolok-olok agama Kristen dengan kartun yang tidak layak disebutkan.

Menurut Isaac Six, yang bekerja untuk International Christian Concerns (ICC), serangan terhadap gereja-gereja dan orang Kristen tak lepas tumbuhnya radikalisme di Niger. ICC mempunyai kontak di Niger.

“Dari tahuh ke tahun kami melihat bahwa berbagai pesan yang dikumandangkan oleh imam maupun dari mesjid di Niger semakin radikal,” ungkapnya seperti dikutip media WORLD.

Ia menunjukkan bahwa Abubakar Shekau, pimpinan “Boko Haram,” organisasi teroris yang telah membunuh ribuan umat Kristen di negara tetangga Nigeria adalah berasal dari Niger.

“Khotbah-khotbahnya sering diperdengarkan di mesjid-mesjid. Khotbah-khotbahnya memanggil untuk berjihad melawan Barat, melawan Kristen, dan penghancuran milik orang Kristen.”

Menurut Isaac, orang-orang menyamakan saja: Barat adalah Kristen, Barat memproduksi material cabul, moralitas di Barat kendur, sehingga, “ketika sesuatu seperti (kartun) Charlie Hebdo muncul, tidak sulit bagi mereka untuk membuat garis hubung dari sana dengan orang Kristen yang tinggal di dekat mereka.”

Niger, yang merupakan bekas jajahan Perancis, menempati ranking terbawah negara-negara miskin di dunia menurut data PBB yang dikutip The Guardian.

Selain gereja-gereja dan bangunan Kristen lainnya, tak terkecuali toko-toko milik non-Muslim, bar, dan pusat kebudayaan Perancis dihancurkan atau dijarah.

 

Sikap DGD

Pada 22 Januari lalu Dewan Gereja-gereja se Dunia mengeluarkan sebuah pernyataan resmi mengatakan, “DGD berterima kasih atas kecaman keras dari pemerintah Niger terhadap serangan-serangan ini.”

Pernyataan itu mengutip kata-kata simpatik dari Presiden Mahamadou Issoufou, “Apa yang telah dilakukan orang Kristen Niger sehingga pantas diperlakukan seperti ini? Apa kesalahan mereka terhadap kamu?”

DGD menyebut Niger sebagai negara dengan sebagian besar penduduk memeluk agama Islam, namun yang mempunyai reputasi toleransi terhadap kawanua Kristen mereka yang berjumlah sedikit. Menurut World Factbook, 80% dari 17 juta lebih penduduknya berafiliasi dengan Islam, sisanya Kristen, agama etnik, dan lain-lain.

DGD turut menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir telah tumbuh gerakan radikalisasi di tengah masyarakat.

Pernyataan DGD itu juga memberikan penghargaan terhadap ungkapan Pdt Sani Nomao lewat Radio BBC, “Saya menyerukan kepada setiap orang Kristen di Niger untuk melupakan dan memaafkan, untuk mengasihi (saudara-saudari) Muslim dengan segenap hatinya, untuk menjaga iman, dan mengasihi Yesus lebih dari sebelumnya.”

Di tengah penderitaan yang mereka alami, umat Kristen di Niger tetap kuat.

“Sekalipun mereka baru saja melalui pengalaman mengerikan di akhir pekan lalu kebanyakan mereka, luar biasanya, dekat pada kegembiraan akan kemungkinan bahwa kejadian itu akan membuka pintu Injil di Niger,” ungkap Isaac.

 

Berita terkait:
Why anti-Christian violence broke out in Niger after Charlie Hebdo, WORLD (22 Januari 2015).