Patriark Gereja Ortodoks mengutuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad

Hashtag #IAmNotCharlie yang muncul sebagai ekspresi alternatif terhadap hubungan kebebasan beragama dan prinsip saling menghormati, sekalipun berbeda pendapat. (Ilustrasi via Frenchmorning)

Gereja Ortodoks Georgia menolak penghinaan terhadap agama-agama, ungkap Patriakat Georgia dalam sebuah pernyataan, demikian Interfax.

“Karikatur yang menghina perasaan keagamaan umat Muslim telah dirilis dalam jumlah yang besar. Karena itu, kami menyatakan bahwa sama seperti tindakan main hakim sendiri dan terorisme tidak bisa dibenarkan, maka demikian juga pencemaran terhadap nilai Islam atau agama-agama lainnya harus dikutuk.”

Pernyataan itu dikeluarkan setelah majalah Perancis Charlie Hebdo mencetak jutaan ekslempar dengan halaman depan kartun satir mengambarkan junjungan umat Islam. Ajaran Islam melarang penggambaran Nabi Muhammad.

“Konsekuensi dari tindakan demikian bisa menjadi bencana, tidak hanya terhadap satu negara, tapi dunia secara keseluruhan,” ungkap pernyataan itu.

Selain mendapat kutukan terutama dari dunia Islam, majalah satir itu turut mengundang simpati, terlihat dari lonjakan jumlah terbitannya.

Protes di Niger, bekas jajahan Perancis, pada hari Sabtu lalu mengakibatkan sekurangnya 10 orang tewas dan sejumlah gereja dibakar.

Lebih dari 250 warga Kristen di Zinder diberikan perlindungan militer, sementara sekitar 2000 warga Perancis di Niamey didesak tidak keluar -rumah, demikian media RFI.

Presiden Niger, Mahmadou Issoufou, mengecam aksi kekerasan itu, mengatakan, “mereka yang menjarah rumah-rumah ibadah (Kristen) ini, yang menodai rumah-rumah ibadah itu dan membunuh kawanua Kristen mereka…sama sekali tidak mengerti tentang Islam,” demikian RFI.

Sejumlah bar, hotel, dan toko-toko milik non-Muslim juga dihancurkan.

Charlie Hebdo sebelumnya juga telah memuat kartun-kartun yang menghina kekristenan. Penggambarannya sangat tidak pantas disebutkan.

Editor majalah satir Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, yang turut menjadi korban dalam serangan di kantor majalah itu, mengaku seorang ateis.

Seorang pendiri Charlie Hebdo, Henri Roussel, 80, menyalahkan sang editor yang dinilainya “menyeret tim” pada kematian mereka dengan cara “overdoing” kartun-kartun provokatif, demikian RT. Serangan terhadap kantor majalah itu dan di lain tempat di Paris merenggut total 17 jiwa.

 

 Diperbarui 21 Januari 2015.